Jika aku memiliki tujuan hidup, aku pasti tak akan disini. Jika aku memperjuangkan impian, aku pasti tak akan membuang waktu ditempat ini. Tempat ini, hanyalah untuk mereka yang masih begitu muda untuk mengerti untuk apa dilahirkan di dunia yang luas ini. Ya, tempat ini hanyalah untuk mereka yang tak memiliki tujuan hidup atau memang inilah tujuan hidup mereka? Sedangkan aku masih menjadi penonton bagi orang-orang yang berlari mengejar apa yang mereka impikan.
Sepotong kalimat yang mengantarkanku sebelum meninggalkan kampus biru. Tiga tahun berlalu, kini ijinkan aku menceritakan segalanya.
Banyak orang bilang dunia kuliah itu gokil dan menyenangkan, tidak melulu masuk pagi, pakaian bebas, hingga asdos yang cantik. Nyatanya, tidak semua yang kudapatkan di bangku kuliah sesuai ekspektasiku alias banyak yang meleset dari harapan, begitulah hidup. Kadang harapan yang terlalu tinggi justru membuat kita membenci takdir.
Balada kampus biru.
"Hay, aku dapat kabar kalau ada pembukaan jalur lain dan masih seleksi saat ini" celetuk temanku, yang kebetulan juga teman baikku selama berseragam putih abu-abu.
Hari itu, setelah mengikuti ujian masuk perguruan tinggi negeri, kami berkumpul sebelum memilih masa depan masing-masing. Terbersit diingatanku, untuk tidak diterima saja di jurusan tempatku ujian tadi. Akuntansi dan Administrasi Negara di salah satu perguruan tinggi Yogyakarta. Jurusan yang dipilihkan ayahku, dengan alasan layaknya pemikiran orang tua kuno jaman dahulu, supaya cepat dapat pekerjaan. Well, kuturuti saja meski setengah hati.
"Oh ya, jalur apa itu?" jawabku,
"Diploma" sahutnya,
"???" aku masih tak sampai, apa lagi itu, kupikir pendidikan sekarang semakin beragam dan aneh-aneh, "itu jalur apa? kok aku tak pernah dengar" jawabku seadanya karena aku memang tak tahu model pendidikan apalagi itu, yang kutahu kalau kuliah hanya sarjana dan pascasarjana, itu saja,
"Diploma itu pendidikan yang langsung kerja ketika sudah lulus" katanya,
"Owh begitu ya" aku tak begitu memperhatikannya, maklumlah aku sudah terlanjur capek dan setengah tak menyadari jawabannya.
Bersaing dengan banyaknya anak dari kepulauan nusantara dan memperebutkan tempat yang bahkan tak begitu kuyakini, apa yang kupikirkan waktu itu. Aku hanya berharap supaya tidak diterima dan dapat sejenak memikirkan masa depanku kembali. Setelah kejadian itu, aku sudah tak lagi memiliki tujuan hidup. Kejadian yang sampai saat ini memaksaku untuk menaruh kebencian pada diriku sendiri dan sikap orang-orang disekitarku. Seolah mereka turut menentukan jalannya kehidupanku. Sebelum mendaftar seleksi masuk perguruan tinggi negeri lewat tes, sebenarnya aku mendapat jalur undangan untuk bebas memilih universitas mana saja yang akan kutuju berikut jurusannya.
***
Waktu itu, euforia mendapat jalur undangan begitu meresap dalam hatiku. Hal yang telah kuperjuangkan selama tiga tahun, tentu dengan mempertahankan sikap dan nilai dari kelas satu SMU. Sudah kuputuskan, untuk mengambil salah satu jurusan di kampus terkenal Jawa Barat. Waktu itu aku berpikir, aku dapat melihat Bandung dan Jatinangor, tentu sembari berenang minum air. Sembari kuliah, melihat mojang-mojang Sunda. Ah, begitu indahnya bayanganku waktu itu. Keluar dari kampung halaman, cita-citaku pertama. Dan keluar negeri, cita-citaku setelah lulus kuliah. Sudah kupetakan dengan rapi tujuan hidupku.
"Jangan kau omongkan kepada saudara-saudaramu kalau kau dapat jalur undangan, malu aku. Saudaramu dapat yang jauh lebih hebat, jalur bidikmisi. Tidak hanya seperti itu" sahut ayahku ketika mengetahui aku mendapat jalur undangan.
Baiklah, tak masalah. Ayah, seharusnya menjadi orang pertama yang memberikan appreciate, namun begitulah hidup. Apalagi sejak kecil, aku tak begitu dekat dengan beliau dan tak pernah mengemis perhatian apalagi pujian.
"Hey, jangan kau pakai jalur itu. Kalau hanya ingin jurusan itu kan sudah ada universitas swasta di kota Jogja yang siap menerimamu. Sudahlah, lupakan jalur konyol itu, tak penting" katanya.
Tak masalah, waktu itu aku merelakan jalur undanganku. Tanpa argumentasi apapun aku seolah membenarkan perkataan ayahku seratus persen dan menunduk bagai anak ayam yang tak tahu arah jalan pulang. Hari itu, aku seperti mengkhianati perjuanganku sendiri selama tiga tahun, seolah menyerah sebelum bertarung. Apakah aku pecundang? Pembenaran dari argumentasi ayahku, pada akhirnya menyelamatkan mukaku dari hadapan diriku sendiri, meski tak seutuhnya karena masih menyisakan akarnya. Layaknya pohon pisang, jika tak sepenuhnya ditebang pasti akan tumbuh lagi. Pembelaan lainnya, aku masih memiliki jurusan yang kuinginkan, meski berada di kampus swasta dan tentu saja aku berpikir berkali-kali mengenai biaya. Itulah yang membuatku ragu. Apakah meneruskannya atau memilih jalan lain hingga mendamparkanku di seleksi perguruan tinggi negeri dengan jurusan yang dipilihkan ayahku.
***
Waktu berselang, akhirnya pengumuman perguruan tinggi tiba. Ketika euforia diterima di perguruan tinggi begitu membahana, dalam hati aku berkata, "diterima ya syukur, tidak juga tak apa". Dan untunglah, saat itu aku tida diterima, entah aku yang begitu idealis tentang jurusan atau memang goblok. Tapi, andai aku diterima mungkin sejak semester pertama sudah DO duluan, maklumlah aku tak suka itung-itungan apalagi akuntansi dan urusan administrasi.
"Nak, ini ada jurusan yang sama dengan jurusan anak temanku. Masih jarang dan langusng dapat kerja. Karena kau tidak diterima SNMPTN sebaiknya kau mendaftar disini saja, biar bisa seperti anak temanku yang sekarang sudah jadi kepala ekonomi di Sukoharjo" setelah kulihat ternyata apa yang dimaksud ayahku sama dengan jurusan yang dibicarakan oleh temanku beberapa hari lalu.
"Hahaha, jadi ikutan juga?" sindir Bimo dengan nada menyindir,
"Disuruh babe" sahutku.
Layaknya ingin melamar disuatu tempat, kami pun mendaftar jurusan masing-masing. Bedanya, dua temanku mendaftar dengan hati sedangkan aku dengan arahan sang bapak. Kalau tidak salah, waktu itu kami ujian waktu puasa dari pagi sampai siang hari. Bisa dibayangkan, panas-panas menahan nafsu, masih ikut ujian. Tapi entah mengapa, aku berharap supaya bisa lolos di ujian kali ini. Bukan apa-apa, hanya untuk memberitahu pada ayahku, aku tidak lolos SNMPTN bukannya aku bodoh, aku masih bisa lolos di perguruan tinggi negeri. Meski pada akhirnya, aku ingin tak mengambilnya, hanya sebagai pelampiasan hehehe.
Akhirnya takdir menjawab do'aku. Akhirnya aku lolos dan dapat memberitahukan pada ayahku kalau aku lolos. Hal yang ingin kukatakan adalah "Aku lolos tapi tak mau ambil jurusan ini, aku tak berminat" itulah yang ingin kukatakan. Tapi sebelum bicara, ayahku dengan bangganya dia tersenyum lalu menyuruhku untuk masuk ke jurusan itu. Dalam hati aku tak tega mengatakannya dan dimulailah petualanganku di kampus yang konon tertua se-Indonesia.
Mulai hari itu, aku resmi menyandang gelar sebagai mahasiswa dan meninggalkan embel-embel SMU. Sedangkan dua temanku, mereka tidak ada yang diterima. Begitulah hidup. Impianku? Boro-boro mewujudkan, dari jurusannya saja sudah terdengar "suram", apalagi mau melanglangbuana ke luar negeri. Sejak saat itu, hal yang menjadi tujuan hidupku adalah menjadi pegawai negeri biasa yang bekerja Jawa dan menjadi anak baik yang nurut orang tua. Ketika melihat gedung registrasi di universitasku, aku membayangkan, mungkin akan bekerja di tempat ini saja. Sudahlah, jangan berharap terlalu tinggi, jika tak kuat nanti jatuh. Dan satu lagi harapanku, aku harus bisa kuliah di semua jurusan dan fakultas di seluruh universitas kerakyatan. Aku tak ingin menyia-nyiakan waktu dengan hanya kuliah di jurusanku. Aku harus bisa mengenal paling tidak orang-orang yang bukan hanya di jurusanku saja, apalagi masuk universitas ini terkenal sulit, aku ingin berkenalan dengan para intelek dari fakultas lain sebelum lulus dan menjadi pegawai negeri biasa. Sederhanakan? Tujuan hidupku mulai berubah drastis sejak SMU...