Jika aku memiliki tujuan hidup, aku pasti tak akan disini. Jika aku memperjuangkan impian, aku pasti tak akan membuang waktu ditempat ini. Tempat ini, hanyalah untuk mereka yang masih begitu muda untuk mengerti untuk apa dilahirkan di dunia yang luas ini. Ya, tempat ini hanyalah untuk mereka yang tak memiliki tujuan hidup atau memang inilah tujuan hidup mereka? Sedangkan aku masih menjadi penonton bagi orang-orang yang berlari mengejar apa yang mereka impikan.
Sepotong kalimat yang mengantarkanku sebelum meninggalkan kampus biru. Tiga tahun berlalu, kini ijinkan aku menceritakan segalanya.
Banyak orang bilang dunia kuliah itu gokil dan menyenangkan, tidak melulu masuk pagi, pakaian bebas, hingga asdos yang cantik. Nyatanya, tidak semua yang kudapatkan di bangku kuliah sesuai ekspektasiku alias banyak yang meleset dari harapan, begitulah hidup. Kadang harapan yang terlalu tinggi justru membuat kita membenci takdir.
Balada kampus biru.
"Hay, aku dapat kabar kalau ada pembukaan jalur lain dan masih seleksi saat ini" celetuk temanku, yang kebetulan juga teman baikku selama berseragam putih abu-abu.
Hari itu, setelah mengikuti ujian masuk perguruan tinggi negeri, kami berkumpul sebelum memilih masa depan masing-masing. Terbersit diingatanku, untuk tidak diterima saja di jurusan tempatku ujian tadi. Akuntansi dan Administrasi Negara di salah satu perguruan tinggi Yogyakarta. Jurusan yang dipilihkan ayahku, dengan alasan layaknya pemikiran orang tua kuno jaman dahulu, supaya cepat dapat pekerjaan. Well, kuturuti saja meski setengah hati.
"Oh ya, jalur apa itu?" jawabku,
"Diploma" sahutnya,
"???" aku masih tak sampai, apa lagi itu, kupikir pendidikan sekarang semakin beragam dan aneh-aneh, "itu jalur apa? kok aku tak pernah dengar" jawabku seadanya karena aku memang tak tahu model pendidikan apalagi itu, yang kutahu kalau kuliah hanya sarjana dan pascasarjana, itu saja,
"Diploma itu pendidikan yang langsung kerja ketika sudah lulus" katanya,
"Owh begitu ya" aku tak begitu memperhatikannya, maklumlah aku sudah terlanjur capek dan setengah tak menyadari jawabannya.
Bersaing dengan banyaknya anak dari kepulauan nusantara dan memperebutkan tempat yang bahkan tak begitu kuyakini, apa yang kupikirkan waktu itu. Aku hanya berharap supaya tidak diterima dan dapat sejenak memikirkan masa depanku kembali. Setelah kejadian itu, aku sudah tak lagi memiliki tujuan hidup. Kejadian yang sampai saat ini memaksaku untuk menaruh kebencian pada diriku sendiri dan sikap orang-orang disekitarku. Seolah mereka turut menentukan jalannya kehidupanku. Sebelum mendaftar seleksi masuk perguruan tinggi negeri lewat tes, sebenarnya aku mendapat jalur undangan untuk bebas memilih universitas mana saja yang akan kutuju berikut jurusannya.
***
Waktu itu, euforia mendapat jalur undangan begitu meresap dalam hatiku. Hal yang telah kuperjuangkan selama tiga tahun, tentu dengan mempertahankan sikap dan nilai dari kelas satu SMU. Sudah kuputuskan, untuk mengambil salah satu jurusan di kampus terkenal Jawa Barat. Waktu itu aku berpikir, aku dapat melihat Bandung dan Jatinangor, tentu sembari berenang minum air. Sembari kuliah, melihat mojang-mojang Sunda. Ah, begitu indahnya bayanganku waktu itu. Keluar dari kampung halaman, cita-citaku pertama. Dan keluar negeri, cita-citaku setelah lulus kuliah. Sudah kupetakan dengan rapi tujuan hidupku.
"Jangan kau omongkan kepada saudara-saudaramu kalau kau dapat jalur undangan, malu aku. Saudaramu dapat yang jauh lebih hebat, jalur bidikmisi. Tidak hanya seperti itu" sahut ayahku ketika mengetahui aku mendapat jalur undangan.
Baiklah, tak masalah. Ayah, seharusnya menjadi orang pertama yang memberikan appreciate, namun begitulah hidup. Apalagi sejak kecil, aku tak begitu dekat dengan beliau dan tak pernah mengemis perhatian apalagi pujian.
"Hey, jangan kau pakai jalur itu. Kalau hanya ingin jurusan itu kan sudah ada universitas swasta di kota Jogja yang siap menerimamu. Sudahlah, lupakan jalur konyol itu, tak penting" katanya.
Tak masalah, waktu itu aku merelakan jalur undanganku. Tanpa argumentasi apapun aku seolah membenarkan perkataan ayahku seratus persen dan menunduk bagai anak ayam yang tak tahu arah jalan pulang. Hari itu, aku seperti mengkhianati perjuanganku sendiri selama tiga tahun, seolah menyerah sebelum bertarung. Apakah aku pecundang? Pembenaran dari argumentasi ayahku, pada akhirnya menyelamatkan mukaku dari hadapan diriku sendiri, meski tak seutuhnya karena masih menyisakan akarnya. Layaknya pohon pisang, jika tak sepenuhnya ditebang pasti akan tumbuh lagi. Pembelaan lainnya, aku masih memiliki jurusan yang kuinginkan, meski berada di kampus swasta dan tentu saja aku berpikir berkali-kali mengenai biaya. Itulah yang membuatku ragu. Apakah meneruskannya atau memilih jalan lain hingga mendamparkanku di seleksi perguruan tinggi negeri dengan jurusan yang dipilihkan ayahku.
***
Waktu berselang, akhirnya pengumuman perguruan tinggi tiba. Ketika euforia diterima di perguruan tinggi begitu membahana, dalam hati aku berkata, "diterima ya syukur, tidak juga tak apa". Dan untunglah, saat itu aku tida diterima, entah aku yang begitu idealis tentang jurusan atau memang goblok. Tapi, andai aku diterima mungkin sejak semester pertama sudah DO duluan, maklumlah aku tak suka itung-itungan apalagi akuntansi dan urusan administrasi.
"Nak, ini ada jurusan yang sama dengan jurusan anak temanku. Masih jarang dan langusng dapat kerja. Karena kau tidak diterima SNMPTN sebaiknya kau mendaftar disini saja, biar bisa seperti anak temanku yang sekarang sudah jadi kepala ekonomi di Sukoharjo" setelah kulihat ternyata apa yang dimaksud ayahku sama dengan jurusan yang dibicarakan oleh temanku beberapa hari lalu.
"Hahaha, jadi ikutan juga?" sindir Bimo dengan nada menyindir,
"Disuruh babe" sahutku.
Layaknya ingin melamar disuatu tempat, kami pun mendaftar jurusan masing-masing. Bedanya, dua temanku mendaftar dengan hati sedangkan aku dengan arahan sang bapak. Kalau tidak salah, waktu itu kami ujian waktu puasa dari pagi sampai siang hari. Bisa dibayangkan, panas-panas menahan nafsu, masih ikut ujian. Tapi entah mengapa, aku berharap supaya bisa lolos di ujian kali ini. Bukan apa-apa, hanya untuk memberitahu pada ayahku, aku tidak lolos SNMPTN bukannya aku bodoh, aku masih bisa lolos di perguruan tinggi negeri. Meski pada akhirnya, aku ingin tak mengambilnya, hanya sebagai pelampiasan hehehe.
Akhirnya takdir menjawab do'aku. Akhirnya aku lolos dan dapat memberitahukan pada ayahku kalau aku lolos. Hal yang ingin kukatakan adalah "Aku lolos tapi tak mau ambil jurusan ini, aku tak berminat" itulah yang ingin kukatakan. Tapi sebelum bicara, ayahku dengan bangganya dia tersenyum lalu menyuruhku untuk masuk ke jurusan itu. Dalam hati aku tak tega mengatakannya dan dimulailah petualanganku di kampus yang konon tertua se-Indonesia.
Mulai hari itu, aku resmi menyandang gelar sebagai mahasiswa dan meninggalkan embel-embel SMU. Sedangkan dua temanku, mereka tidak ada yang diterima. Begitulah hidup. Impianku? Boro-boro mewujudkan, dari jurusannya saja sudah terdengar "suram", apalagi mau melanglangbuana ke luar negeri. Sejak saat itu, hal yang menjadi tujuan hidupku adalah menjadi pegawai negeri biasa yang bekerja Jawa dan menjadi anak baik yang nurut orang tua. Ketika melihat gedung registrasi di universitasku, aku membayangkan, mungkin akan bekerja di tempat ini saja. Sudahlah, jangan berharap terlalu tinggi, jika tak kuat nanti jatuh. Dan satu lagi harapanku, aku harus bisa kuliah di semua jurusan dan fakultas di seluruh universitas kerakyatan. Aku tak ingin menyia-nyiakan waktu dengan hanya kuliah di jurusanku. Aku harus bisa mengenal paling tidak orang-orang yang bukan hanya di jurusanku saja, apalagi masuk universitas ini terkenal sulit, aku ingin berkenalan dengan para intelek dari fakultas lain sebelum lulus dan menjadi pegawai negeri biasa. Sederhanakan? Tujuan hidupku mulai berubah drastis sejak SMU...
Rabu, 18 Maret 2015
Sabtu, 21 Februari 2015
Apakah definisi dari bahagia? Terlalu abstrak kawan. Terlalu naif jika mendefinisikan bahagia dengan apa yang dilakukan oleh banyak orang, seolah kebahagiaan hanya milik mereka yang masuk ke dunia mayoritas. Tidak semua kebahagiaan dapat dilihat dari mata dan diucapkan dari mulut, tapi dirasakan dari hati. Karena banyak orang yang menilai kadar bahagia dari banyaknya harta yang dimiliki, barisan mobil mewah yang berjajar di garasi, maupun para selir yang silih berganti siap melayani.
Bukan, bukan itu. Kebahagiaan tak akan sepicik itu dalam menerjemahkan dirinya sendiri...
Orang lain tak dapat memaksakan definisi bahagianya pada kita, begitupun sebaliknya. Bahagia, begitu sederhana dirasakan, tapi begitu sulit didefinisikan. Bahkan, ketika bermimpi pun seseorang dapat berbahagia dengan dunianya sendiri. Sesederhana itu, tapi mengapa sulit diterjemahkan? Karena kebanyakan orang, tak mau melihat apa yang ada di dalam hati orang lain. Alasannya, karena kita bukan Tuhan yang dapat membaca hati orang lain. Kita hanya sesama manusia yang buta apa itu makna bahagia menurut kamus kehidupan masing-masing manusia. Mungkin karena itulah, kita tak dapat memaksakan kebahagiaan kita terhadap orang lain. Dan mengapa dunia begitu sulit mendapat hakikat sejati dari "bahagia"...
Dini hari tadi, aku mendapat surat pendek dari ponsel, yang berisi "Semoga kamu bahagia kedepannya". Terdengar sederhana, namun karena yang mengucapkan adalah orang yang kukagumi bahkan terlanjur kucintai. Kebahagiaan berupa cucuran air mata perpisahan dapat kurasakan, meski kita tak memiliki ikatan apapun bahkan aku masih menjadi orang asing baginya. Terimakasih, aku akan selalu bahagia, karena aku mengerti posisiku...
Bukan, bukan itu. Kebahagiaan tak akan sepicik itu dalam menerjemahkan dirinya sendiri...
Orang lain tak dapat memaksakan definisi bahagianya pada kita, begitupun sebaliknya. Bahagia, begitu sederhana dirasakan, tapi begitu sulit didefinisikan. Bahkan, ketika bermimpi pun seseorang dapat berbahagia dengan dunianya sendiri. Sesederhana itu, tapi mengapa sulit diterjemahkan? Karena kebanyakan orang, tak mau melihat apa yang ada di dalam hati orang lain. Alasannya, karena kita bukan Tuhan yang dapat membaca hati orang lain. Kita hanya sesama manusia yang buta apa itu makna bahagia menurut kamus kehidupan masing-masing manusia. Mungkin karena itulah, kita tak dapat memaksakan kebahagiaan kita terhadap orang lain. Dan mengapa dunia begitu sulit mendapat hakikat sejati dari "bahagia"...
Dini hari tadi, aku mendapat surat pendek dari ponsel, yang berisi "Semoga kamu bahagia kedepannya". Terdengar sederhana, namun karena yang mengucapkan adalah orang yang kukagumi bahkan terlanjur kucintai. Kebahagiaan berupa cucuran air mata perpisahan dapat kurasakan, meski kita tak memiliki ikatan apapun bahkan aku masih menjadi orang asing baginya. Terimakasih, aku akan selalu bahagia, karena aku mengerti posisiku...
Kamis, 19 Februari 2015
Sedikit bercerita tiga tahun lalu, ketika pertama kali menjadi bagian dari kampus biru. Entah apa yang ada dipikiranku waktu itu, aku dengan tanpa mempertanyakan kembali kemauan ayahku langsung "mengiyakan" ajakannya untuk mendaftar di jurusan itu. Hal yang tak pernah kubayangkan sama sekali, mengingat cara berpikirku yang sedikit banyak mengarah ke bidang akademik dan bukan praktisi. Dalam hati aku bertanya, jika pada akhirnya menjebak diri ke dalam tempat yang selama ini tak pernah ada dalam benakku, yang hanya menimbulkan kekalutan jiwa kenapa tidak dari dulu saja masuk SMK daripada SMA.
Awalnya, aku tak merasakan apapun. Hanya berusaha mengikuti arus yang mengalir sepert biasanya.
Ya, seperti masa-masa SD sampai SMU. Aku dibesarkan dilingkungan menengah kebawah dalam hal berpikir, baik itu oang tuaku maupun masyarakat sekitar tempatku hidup selama ini. Tempat yang seolah tak mengijinkan memiliki pemikiran yang berbeda dari mereka. Sejak sekolah dasar hingga sekolah menengahpun aku terbiasa mengesampingkan idealismeku dalam berpikir dan mengalah dengan sistem. Diperbudak oleh sistem? Bisa jadi.
Sejak di SMU, tepatnya saat akan lulus, aku mendapatkan undangan untuk memilih universtas mana yang kuhendaki dan aku menjatuhkan pilihan di bumi Pasundan, tepatnya UnPad. Bukan apa-apa aku memilihnya, mungkin karena aku terlalu terpaku dengan banyaknya mojang Sunda yang bertebaran di TV nasional. Mungkin juga karena tak pernah punya pacar seumur hidup, dari bayi sampai sekarang selalu saja mengkhayal dan mencoba menegaskan kembali legitimasiku tentang wanita. Bukan karena tak laku, tapi karena hanya ingin produk impor alias bule. Itulah alasanku pada teman-teman SMU-ku jika ditanya kenapa tidak memiliki pacar, padahal dalam hati juga ingin tapi karena tak laku jadi memasang legitimasi berlabel gengsi produk impor. hahahaha. Konyol...
Sudahlah, tinggalkan romantisme masa lalu. Kembali ketempat kuliah. Akhirnya, setelah berbagai bujukan semu a la orde baru pada rakyatnya aku menerima pinangan untuk menjadi bagian dari kampus biru dengan gelar Ahli Madya yang akan kuterima setelah lulus nanti. Dalam bayangan orang tuaku, aku akan langsung bekerja jika lulus (sampai saat ini masih seperti itu cara berpikir mereka, mungkin karena tidak begitu update tentang berita moratorium dsb). Dan kembali meneruskan kuliah jika sudah diterima kerja (alasannya menyamakan takdirku dengan anak temannya atau anak saudaranya yang juga mengambil jalan seperti). Aku harus merelakan undangan yang sejak semula ayahku pesimis terhadapnya, lagi-lagi dengan alasan dapat dengan mudah setiap orang mendapatkannya dan membandingkannya dengan jalur bidikmisi yang diterima saudara jauhku (aku tak kenal). Aku merelakannya dan mendaftar di jurusan yang di anjurkannya padaku (sebelumnya aku sudah diterima menjadi mahasiswa di kampus swasta dengan jurusan yang sama, tapi karena argumenku mentah, aku kalah dengan alasan aku tak memiliki komitmen dan harus belajar lagi untuk bersaing di jurusan itu, bukankah mahasiswa itu adalah belajar, tapi sudahlah apalgi aku masih dibayari jadi aku tak berhak menentang, walaupun itu hak-ku memilih jalan hidup). Yang kupikirkan adalah bertanggungjawab penuh setelah aku lulus dan menjauh dari mereka, kedua orang tuaku apapun yang terjadi. Sejak memasuki gerbang yang katanya merupakan gerbang kampus nomor satu se-nusantara (hanya saling salip dengan kampus jaket kuning di Depok) aku langsung melihat dua besi besar sebagai tanda selamat datang. Lagipula, dalam benakku waktu itu aku dapat bergaul dengan orang-orang yang cara berpikirnya diatasku. Aku dapat belajar banyak dari mereka. Aku dapat selalu berkunjung keperpus membaca banyak buku dan menghabiskan waktu di gedung rektorat yang melegenda itu. Aku dapat bertukar pikiran tentang sejarah, filsafat, politik, hingga ilmu-ilmu akademisi lain yang selalu kubanggakan sebagai kelebihanku.
Tapi, begitulah takdir mempermainkan harapan seseorang. Bukan mereka yang gemar membaca, berpikir, maupun menuangkan idenya. Bukan juga mereka yang mau menerima berbagai cara pandang. Tapi mereka yang gemar mabuk-mabukan, berjudi, hingga sex diluar nikahlah yang ada disekitarku. Mereka yang selalu menggunjing kelebihan orang lain, memperbudakku (titip absen hingga 11 orang perhari), iri hingga mengkhianati kawan sendiri dengan berbagai cara (tidak mencamtumkan namaku dalam kelompok, melaporkan guyonanku yang bernada satir kepegawai prodi, hingga yang paling parah hampir mengambil tempatku kerja lapangan) lengkap sudah alasanku untuk tak berteman dengan orang-orang ini di masa depan... Selama tiga tahun aku harus hidup bersama mereka, bersama kekolotan cara berpikir dan menjebak diri kedalam kebodohan yang mereka buat. Awalnya tidak cocok jurusan, ditambah dengan sikap orang-orang yang memuakkan! Dari situ, aku tak memiliki niat untuk menjalin hubungan yang baik dengan mereka. Meski mereka selalu mengajakku berjalan-jalan ke berbagai tempat, aku sama sekali tak tertarik...
Aku berpikir, itukah kutukan bagiku yang tak memiliki pendirian dalam memilih hidup. Hingga semester dua, aku menyadari semuanya bahkan menuangkannya kedalam karya pertamaku, "Gadis Kagoshima" yang separuh merekam kisah hidupku dan separuh lagi imajinasiku tentang legitimasi wanita idamanku, untuk memperkuat posisi jombloku dan hegemoniku didepan kalayak umum. Aku berusaha menghindari duniaku saat itu dengan bolos kuliah, dan itu adalah pertama kalinya aku membolos dari pendidikan formal sejak dilahirkan. Sekaligus, untuk mempertanyakan kembali apakah aku masih tepat berada ditempat ini? Memasuki akhir semester 2, aku memutuskan untuk mendaftar kembali kejurusan yang selalu kuimpikan "Hubungan Internasional" kampus FISIPOL UGM, yang kedua Sastra Jepang dan Pariwisata di FIB. Pokoknya semua yang bisa membawaku untuk melihat dunia, itulah impianku. Melihat dunia sebelum melihat akhirat. Takdir pun melemparku dari tujuan. Dari ketiganya, aku sama sekali tidak lolos. the last struggle, begitulah aku menyebutnya. Tapi bukan hanya jurusan yang kurisaukan, tapi juga teman. Aku ingin memiliki teman yang seperti FTV, saling memperdulikan dan tidak saling mengkhianati dan menggunjing kelemahan orang lain. Bagiku, mereka hanyalah sampah yang mengaku-ngaku intelektual...
Kini, hampir tiga tahun berlalu dan aku bertemu dengan seseorang yang bernasib lumayan mengenaskan. Orang itu hampir tak memiliki teman dan selalu frustasi menatap kehidupan. Tapi, dia adalah seorang petualang. Petualang yang telah mengarungi berbagai samudra di dunia. Aku sadar, meski selalu berpikir akademisi dan tak sama dengan kebanyakan orang, tapi itu hanya berlaku untuk orang-orang bodoh dan primitif. Sedangkan dikancah akademisi berlabel sarjana pemikiranku masih terlalu muda untuk dicerna dan tak satu pemahaman dengan orang-orang itu. Memang bukan jalanku untuk bersama para akademisi.
Dan sudah kuputuskan, Kapal Pesiar maupun Kapal Kargo adalah masa depan untuk menggantikan impianku yang hampir kabur. Meskipun banyak orang berkata, kerja di kapal bagaikan budak. Tapi aku belum mencobanya kan? Apalagi jika sudah tekad, sebudak apapun akan kulakukan dengan tabah meski harus seperti kuda. Apalagi, sudah diketuk moratorium PNS (hal yang selalu menjadi impian orang tuaku). Dengan begitu, aku dapat mengucapkan selamat tinggal pada tempat dan orang-orang yang tak pernah kuharapkan dalam hidup, berkata selamat tinggal pada pekerjaan yang tak pernah kusukai dalam hidup. Dan dapat bersyukur, mengingat betapa kecilnya kita di dunia yang luas ini.
Awalnya, aku tak merasakan apapun. Hanya berusaha mengikuti arus yang mengalir sepert biasanya.
Ya, seperti masa-masa SD sampai SMU. Aku dibesarkan dilingkungan menengah kebawah dalam hal berpikir, baik itu oang tuaku maupun masyarakat sekitar tempatku hidup selama ini. Tempat yang seolah tak mengijinkan memiliki pemikiran yang berbeda dari mereka. Sejak sekolah dasar hingga sekolah menengahpun aku terbiasa mengesampingkan idealismeku dalam berpikir dan mengalah dengan sistem. Diperbudak oleh sistem? Bisa jadi.
Sejak di SMU, tepatnya saat akan lulus, aku mendapatkan undangan untuk memilih universtas mana yang kuhendaki dan aku menjatuhkan pilihan di bumi Pasundan, tepatnya UnPad. Bukan apa-apa aku memilihnya, mungkin karena aku terlalu terpaku dengan banyaknya mojang Sunda yang bertebaran di TV nasional. Mungkin juga karena tak pernah punya pacar seumur hidup, dari bayi sampai sekarang selalu saja mengkhayal dan mencoba menegaskan kembali legitimasiku tentang wanita. Bukan karena tak laku, tapi karena hanya ingin produk impor alias bule. Itulah alasanku pada teman-teman SMU-ku jika ditanya kenapa tidak memiliki pacar, padahal dalam hati juga ingin tapi karena tak laku jadi memasang legitimasi berlabel gengsi produk impor. hahahaha. Konyol...
Sudahlah, tinggalkan romantisme masa lalu. Kembali ketempat kuliah. Akhirnya, setelah berbagai bujukan semu a la orde baru pada rakyatnya aku menerima pinangan untuk menjadi bagian dari kampus biru dengan gelar Ahli Madya yang akan kuterima setelah lulus nanti. Dalam bayangan orang tuaku, aku akan langsung bekerja jika lulus (sampai saat ini masih seperti itu cara berpikir mereka, mungkin karena tidak begitu update tentang berita moratorium dsb). Dan kembali meneruskan kuliah jika sudah diterima kerja (alasannya menyamakan takdirku dengan anak temannya atau anak saudaranya yang juga mengambil jalan seperti). Aku harus merelakan undangan yang sejak semula ayahku pesimis terhadapnya, lagi-lagi dengan alasan dapat dengan mudah setiap orang mendapatkannya dan membandingkannya dengan jalur bidikmisi yang diterima saudara jauhku (aku tak kenal). Aku merelakannya dan mendaftar di jurusan yang di anjurkannya padaku (sebelumnya aku sudah diterima menjadi mahasiswa di kampus swasta dengan jurusan yang sama, tapi karena argumenku mentah, aku kalah dengan alasan aku tak memiliki komitmen dan harus belajar lagi untuk bersaing di jurusan itu, bukankah mahasiswa itu adalah belajar, tapi sudahlah apalgi aku masih dibayari jadi aku tak berhak menentang, walaupun itu hak-ku memilih jalan hidup). Yang kupikirkan adalah bertanggungjawab penuh setelah aku lulus dan menjauh dari mereka, kedua orang tuaku apapun yang terjadi. Sejak memasuki gerbang yang katanya merupakan gerbang kampus nomor satu se-nusantara (hanya saling salip dengan kampus jaket kuning di Depok) aku langsung melihat dua besi besar sebagai tanda selamat datang. Lagipula, dalam benakku waktu itu aku dapat bergaul dengan orang-orang yang cara berpikirnya diatasku. Aku dapat belajar banyak dari mereka. Aku dapat selalu berkunjung keperpus membaca banyak buku dan menghabiskan waktu di gedung rektorat yang melegenda itu. Aku dapat bertukar pikiran tentang sejarah, filsafat, politik, hingga ilmu-ilmu akademisi lain yang selalu kubanggakan sebagai kelebihanku.
Tapi, begitulah takdir mempermainkan harapan seseorang. Bukan mereka yang gemar membaca, berpikir, maupun menuangkan idenya. Bukan juga mereka yang mau menerima berbagai cara pandang. Tapi mereka yang gemar mabuk-mabukan, berjudi, hingga sex diluar nikahlah yang ada disekitarku. Mereka yang selalu menggunjing kelebihan orang lain, memperbudakku (titip absen hingga 11 orang perhari), iri hingga mengkhianati kawan sendiri dengan berbagai cara (tidak mencamtumkan namaku dalam kelompok, melaporkan guyonanku yang bernada satir kepegawai prodi, hingga yang paling parah hampir mengambil tempatku kerja lapangan) lengkap sudah alasanku untuk tak berteman dengan orang-orang ini di masa depan... Selama tiga tahun aku harus hidup bersama mereka, bersama kekolotan cara berpikir dan menjebak diri kedalam kebodohan yang mereka buat. Awalnya tidak cocok jurusan, ditambah dengan sikap orang-orang yang memuakkan! Dari situ, aku tak memiliki niat untuk menjalin hubungan yang baik dengan mereka. Meski mereka selalu mengajakku berjalan-jalan ke berbagai tempat, aku sama sekali tak tertarik...
Aku berpikir, itukah kutukan bagiku yang tak memiliki pendirian dalam memilih hidup. Hingga semester dua, aku menyadari semuanya bahkan menuangkannya kedalam karya pertamaku, "Gadis Kagoshima" yang separuh merekam kisah hidupku dan separuh lagi imajinasiku tentang legitimasi wanita idamanku, untuk memperkuat posisi jombloku dan hegemoniku didepan kalayak umum. Aku berusaha menghindari duniaku saat itu dengan bolos kuliah, dan itu adalah pertama kalinya aku membolos dari pendidikan formal sejak dilahirkan. Sekaligus, untuk mempertanyakan kembali apakah aku masih tepat berada ditempat ini? Memasuki akhir semester 2, aku memutuskan untuk mendaftar kembali kejurusan yang selalu kuimpikan "Hubungan Internasional" kampus FISIPOL UGM, yang kedua Sastra Jepang dan Pariwisata di FIB. Pokoknya semua yang bisa membawaku untuk melihat dunia, itulah impianku. Melihat dunia sebelum melihat akhirat. Takdir pun melemparku dari tujuan. Dari ketiganya, aku sama sekali tidak lolos. the last struggle, begitulah aku menyebutnya. Tapi bukan hanya jurusan yang kurisaukan, tapi juga teman. Aku ingin memiliki teman yang seperti FTV, saling memperdulikan dan tidak saling mengkhianati dan menggunjing kelemahan orang lain. Bagiku, mereka hanyalah sampah yang mengaku-ngaku intelektual...
Kini, hampir tiga tahun berlalu dan aku bertemu dengan seseorang yang bernasib lumayan mengenaskan. Orang itu hampir tak memiliki teman dan selalu frustasi menatap kehidupan. Tapi, dia adalah seorang petualang. Petualang yang telah mengarungi berbagai samudra di dunia. Aku sadar, meski selalu berpikir akademisi dan tak sama dengan kebanyakan orang, tapi itu hanya berlaku untuk orang-orang bodoh dan primitif. Sedangkan dikancah akademisi berlabel sarjana pemikiranku masih terlalu muda untuk dicerna dan tak satu pemahaman dengan orang-orang itu. Memang bukan jalanku untuk bersama para akademisi.
Dan sudah kuputuskan, Kapal Pesiar maupun Kapal Kargo adalah masa depan untuk menggantikan impianku yang hampir kabur. Meskipun banyak orang berkata, kerja di kapal bagaikan budak. Tapi aku belum mencobanya kan? Apalagi jika sudah tekad, sebudak apapun akan kulakukan dengan tabah meski harus seperti kuda. Apalagi, sudah diketuk moratorium PNS (hal yang selalu menjadi impian orang tuaku). Dengan begitu, aku dapat mengucapkan selamat tinggal pada tempat dan orang-orang yang tak pernah kuharapkan dalam hidup, berkata selamat tinggal pada pekerjaan yang tak pernah kusukai dalam hidup. Dan dapat bersyukur, mengingat betapa kecilnya kita di dunia yang luas ini.
Langganan:
Postingan (Atom)