Jika aku memiliki tujuan hidup, aku pasti tak akan disini. Jika aku memperjuangkan impian, aku pasti tak akan membuang waktu ditempat ini. Tempat ini, hanyalah untuk mereka yang masih begitu muda untuk mengerti untuk apa dilahirkan di dunia yang luas ini. Ya, tempat ini hanyalah untuk mereka yang tak memiliki tujuan hidup atau memang inilah tujuan hidup mereka? Sedangkan aku masih menjadi penonton bagi orang-orang yang berlari mengejar apa yang mereka impikan.
Sepotong kalimat yang mengantarkanku sebelum meninggalkan kampus biru. Tiga tahun berlalu, kini ijinkan aku menceritakan segalanya.
Banyak orang bilang dunia kuliah itu gokil dan menyenangkan, tidak melulu masuk pagi, pakaian bebas, hingga asdos yang cantik. Nyatanya, tidak semua yang kudapatkan di bangku kuliah sesuai ekspektasiku alias banyak yang meleset dari harapan, begitulah hidup. Kadang harapan yang terlalu tinggi justru membuat kita membenci takdir.
Balada kampus biru.
"Hay, aku dapat kabar kalau ada pembukaan jalur lain dan masih seleksi saat ini" celetuk temanku, yang kebetulan juga teman baikku selama berseragam putih abu-abu.
Hari itu, setelah mengikuti ujian masuk perguruan tinggi negeri, kami berkumpul sebelum memilih masa depan masing-masing. Terbersit diingatanku, untuk tidak diterima saja di jurusan tempatku ujian tadi. Akuntansi dan Administrasi Negara di salah satu perguruan tinggi Yogyakarta. Jurusan yang dipilihkan ayahku, dengan alasan layaknya pemikiran orang tua kuno jaman dahulu, supaya cepat dapat pekerjaan. Well, kuturuti saja meski setengah hati.
"Oh ya, jalur apa itu?" jawabku,
"Diploma" sahutnya,
"???" aku masih tak sampai, apa lagi itu, kupikir pendidikan sekarang semakin beragam dan aneh-aneh, "itu jalur apa? kok aku tak pernah dengar" jawabku seadanya karena aku memang tak tahu model pendidikan apalagi itu, yang kutahu kalau kuliah hanya sarjana dan pascasarjana, itu saja,
"Diploma itu pendidikan yang langsung kerja ketika sudah lulus" katanya,
"Owh begitu ya" aku tak begitu memperhatikannya, maklumlah aku sudah terlanjur capek dan setengah tak menyadari jawabannya.
Bersaing dengan banyaknya anak dari kepulauan nusantara dan memperebutkan tempat yang bahkan tak begitu kuyakini, apa yang kupikirkan waktu itu. Aku hanya berharap supaya tidak diterima dan dapat sejenak memikirkan masa depanku kembali. Setelah kejadian itu, aku sudah tak lagi memiliki tujuan hidup. Kejadian yang sampai saat ini memaksaku untuk menaruh kebencian pada diriku sendiri dan sikap orang-orang disekitarku. Seolah mereka turut menentukan jalannya kehidupanku. Sebelum mendaftar seleksi masuk perguruan tinggi negeri lewat tes, sebenarnya aku mendapat jalur undangan untuk bebas memilih universitas mana saja yang akan kutuju berikut jurusannya.
***
Waktu itu, euforia mendapat jalur undangan begitu meresap dalam hatiku. Hal yang telah kuperjuangkan selama tiga tahun, tentu dengan mempertahankan sikap dan nilai dari kelas satu SMU. Sudah kuputuskan, untuk mengambil salah satu jurusan di kampus terkenal Jawa Barat. Waktu itu aku berpikir, aku dapat melihat Bandung dan Jatinangor, tentu sembari berenang minum air. Sembari kuliah, melihat mojang-mojang Sunda. Ah, begitu indahnya bayanganku waktu itu. Keluar dari kampung halaman, cita-citaku pertama. Dan keluar negeri, cita-citaku setelah lulus kuliah. Sudah kupetakan dengan rapi tujuan hidupku.
"Jangan kau omongkan kepada saudara-saudaramu kalau kau dapat jalur undangan, malu aku. Saudaramu dapat yang jauh lebih hebat, jalur bidikmisi. Tidak hanya seperti itu" sahut ayahku ketika mengetahui aku mendapat jalur undangan.
Baiklah, tak masalah. Ayah, seharusnya menjadi orang pertama yang memberikan appreciate, namun begitulah hidup. Apalagi sejak kecil, aku tak begitu dekat dengan beliau dan tak pernah mengemis perhatian apalagi pujian.
"Hey, jangan kau pakai jalur itu. Kalau hanya ingin jurusan itu kan sudah ada universitas swasta di kota Jogja yang siap menerimamu. Sudahlah, lupakan jalur konyol itu, tak penting" katanya.
Tak masalah, waktu itu aku merelakan jalur undanganku. Tanpa argumentasi apapun aku seolah membenarkan perkataan ayahku seratus persen dan menunduk bagai anak ayam yang tak tahu arah jalan pulang. Hari itu, aku seperti mengkhianati perjuanganku sendiri selama tiga tahun, seolah menyerah sebelum bertarung. Apakah aku pecundang? Pembenaran dari argumentasi ayahku, pada akhirnya menyelamatkan mukaku dari hadapan diriku sendiri, meski tak seutuhnya karena masih menyisakan akarnya. Layaknya pohon pisang, jika tak sepenuhnya ditebang pasti akan tumbuh lagi. Pembelaan lainnya, aku masih memiliki jurusan yang kuinginkan, meski berada di kampus swasta dan tentu saja aku berpikir berkali-kali mengenai biaya. Itulah yang membuatku ragu. Apakah meneruskannya atau memilih jalan lain hingga mendamparkanku di seleksi perguruan tinggi negeri dengan jurusan yang dipilihkan ayahku.
***
Waktu berselang, akhirnya pengumuman perguruan tinggi tiba. Ketika euforia diterima di perguruan tinggi begitu membahana, dalam hati aku berkata, "diterima ya syukur, tidak juga tak apa". Dan untunglah, saat itu aku tida diterima, entah aku yang begitu idealis tentang jurusan atau memang goblok. Tapi, andai aku diterima mungkin sejak semester pertama sudah DO duluan, maklumlah aku tak suka itung-itungan apalagi akuntansi dan urusan administrasi.
"Nak, ini ada jurusan yang sama dengan jurusan anak temanku. Masih jarang dan langusng dapat kerja. Karena kau tidak diterima SNMPTN sebaiknya kau mendaftar disini saja, biar bisa seperti anak temanku yang sekarang sudah jadi kepala ekonomi di Sukoharjo" setelah kulihat ternyata apa yang dimaksud ayahku sama dengan jurusan yang dibicarakan oleh temanku beberapa hari lalu.
"Hahaha, jadi ikutan juga?" sindir Bimo dengan nada menyindir,
"Disuruh babe" sahutku.
Layaknya ingin melamar disuatu tempat, kami pun mendaftar jurusan masing-masing. Bedanya, dua temanku mendaftar dengan hati sedangkan aku dengan arahan sang bapak. Kalau tidak salah, waktu itu kami ujian waktu puasa dari pagi sampai siang hari. Bisa dibayangkan, panas-panas menahan nafsu, masih ikut ujian. Tapi entah mengapa, aku berharap supaya bisa lolos di ujian kali ini. Bukan apa-apa, hanya untuk memberitahu pada ayahku, aku tidak lolos SNMPTN bukannya aku bodoh, aku masih bisa lolos di perguruan tinggi negeri. Meski pada akhirnya, aku ingin tak mengambilnya, hanya sebagai pelampiasan hehehe.
Akhirnya takdir menjawab do'aku. Akhirnya aku lolos dan dapat memberitahukan pada ayahku kalau aku lolos. Hal yang ingin kukatakan adalah "Aku lolos tapi tak mau ambil jurusan ini, aku tak berminat" itulah yang ingin kukatakan. Tapi sebelum bicara, ayahku dengan bangganya dia tersenyum lalu menyuruhku untuk masuk ke jurusan itu. Dalam hati aku tak tega mengatakannya dan dimulailah petualanganku di kampus yang konon tertua se-Indonesia.
Mulai hari itu, aku resmi menyandang gelar sebagai mahasiswa dan meninggalkan embel-embel SMU. Sedangkan dua temanku, mereka tidak ada yang diterima. Begitulah hidup. Impianku? Boro-boro mewujudkan, dari jurusannya saja sudah terdengar "suram", apalagi mau melanglangbuana ke luar negeri. Sejak saat itu, hal yang menjadi tujuan hidupku adalah menjadi pegawai negeri biasa yang bekerja Jawa dan menjadi anak baik yang nurut orang tua. Ketika melihat gedung registrasi di universitasku, aku membayangkan, mungkin akan bekerja di tempat ini saja. Sudahlah, jangan berharap terlalu tinggi, jika tak kuat nanti jatuh. Dan satu lagi harapanku, aku harus bisa kuliah di semua jurusan dan fakultas di seluruh universitas kerakyatan. Aku tak ingin menyia-nyiakan waktu dengan hanya kuliah di jurusanku. Aku harus bisa mengenal paling tidak orang-orang yang bukan hanya di jurusanku saja, apalagi masuk universitas ini terkenal sulit, aku ingin berkenalan dengan para intelek dari fakultas lain sebelum lulus dan menjadi pegawai negeri biasa. Sederhanakan? Tujuan hidupku mulai berubah drastis sejak SMU...
gunungkidul
gunungkidul handayani, paseduluran guyub rukun sak lawase
Rabu, 18 Maret 2015
Sabtu, 21 Februari 2015
Apakah definisi dari bahagia? Terlalu abstrak kawan. Terlalu naif jika mendefinisikan bahagia dengan apa yang dilakukan oleh banyak orang, seolah kebahagiaan hanya milik mereka yang masuk ke dunia mayoritas. Tidak semua kebahagiaan dapat dilihat dari mata dan diucapkan dari mulut, tapi dirasakan dari hati. Karena banyak orang yang menilai kadar bahagia dari banyaknya harta yang dimiliki, barisan mobil mewah yang berjajar di garasi, maupun para selir yang silih berganti siap melayani.
Bukan, bukan itu. Kebahagiaan tak akan sepicik itu dalam menerjemahkan dirinya sendiri...
Orang lain tak dapat memaksakan definisi bahagianya pada kita, begitupun sebaliknya. Bahagia, begitu sederhana dirasakan, tapi begitu sulit didefinisikan. Bahkan, ketika bermimpi pun seseorang dapat berbahagia dengan dunianya sendiri. Sesederhana itu, tapi mengapa sulit diterjemahkan? Karena kebanyakan orang, tak mau melihat apa yang ada di dalam hati orang lain. Alasannya, karena kita bukan Tuhan yang dapat membaca hati orang lain. Kita hanya sesama manusia yang buta apa itu makna bahagia menurut kamus kehidupan masing-masing manusia. Mungkin karena itulah, kita tak dapat memaksakan kebahagiaan kita terhadap orang lain. Dan mengapa dunia begitu sulit mendapat hakikat sejati dari "bahagia"...
Dini hari tadi, aku mendapat surat pendek dari ponsel, yang berisi "Semoga kamu bahagia kedepannya". Terdengar sederhana, namun karena yang mengucapkan adalah orang yang kukagumi bahkan terlanjur kucintai. Kebahagiaan berupa cucuran air mata perpisahan dapat kurasakan, meski kita tak memiliki ikatan apapun bahkan aku masih menjadi orang asing baginya. Terimakasih, aku akan selalu bahagia, karena aku mengerti posisiku...
Bukan, bukan itu. Kebahagiaan tak akan sepicik itu dalam menerjemahkan dirinya sendiri...
Orang lain tak dapat memaksakan definisi bahagianya pada kita, begitupun sebaliknya. Bahagia, begitu sederhana dirasakan, tapi begitu sulit didefinisikan. Bahkan, ketika bermimpi pun seseorang dapat berbahagia dengan dunianya sendiri. Sesederhana itu, tapi mengapa sulit diterjemahkan? Karena kebanyakan orang, tak mau melihat apa yang ada di dalam hati orang lain. Alasannya, karena kita bukan Tuhan yang dapat membaca hati orang lain. Kita hanya sesama manusia yang buta apa itu makna bahagia menurut kamus kehidupan masing-masing manusia. Mungkin karena itulah, kita tak dapat memaksakan kebahagiaan kita terhadap orang lain. Dan mengapa dunia begitu sulit mendapat hakikat sejati dari "bahagia"...
Dini hari tadi, aku mendapat surat pendek dari ponsel, yang berisi "Semoga kamu bahagia kedepannya". Terdengar sederhana, namun karena yang mengucapkan adalah orang yang kukagumi bahkan terlanjur kucintai. Kebahagiaan berupa cucuran air mata perpisahan dapat kurasakan, meski kita tak memiliki ikatan apapun bahkan aku masih menjadi orang asing baginya. Terimakasih, aku akan selalu bahagia, karena aku mengerti posisiku...
Kamis, 19 Februari 2015
Sedikit bercerita tiga tahun lalu, ketika pertama kali menjadi bagian dari kampus biru. Entah apa yang ada dipikiranku waktu itu, aku dengan tanpa mempertanyakan kembali kemauan ayahku langsung "mengiyakan" ajakannya untuk mendaftar di jurusan itu. Hal yang tak pernah kubayangkan sama sekali, mengingat cara berpikirku yang sedikit banyak mengarah ke bidang akademik dan bukan praktisi. Dalam hati aku bertanya, jika pada akhirnya menjebak diri ke dalam tempat yang selama ini tak pernah ada dalam benakku, yang hanya menimbulkan kekalutan jiwa kenapa tidak dari dulu saja masuk SMK daripada SMA.
Awalnya, aku tak merasakan apapun. Hanya berusaha mengikuti arus yang mengalir sepert biasanya.
Ya, seperti masa-masa SD sampai SMU. Aku dibesarkan dilingkungan menengah kebawah dalam hal berpikir, baik itu oang tuaku maupun masyarakat sekitar tempatku hidup selama ini. Tempat yang seolah tak mengijinkan memiliki pemikiran yang berbeda dari mereka. Sejak sekolah dasar hingga sekolah menengahpun aku terbiasa mengesampingkan idealismeku dalam berpikir dan mengalah dengan sistem. Diperbudak oleh sistem? Bisa jadi.
Sejak di SMU, tepatnya saat akan lulus, aku mendapatkan undangan untuk memilih universtas mana yang kuhendaki dan aku menjatuhkan pilihan di bumi Pasundan, tepatnya UnPad. Bukan apa-apa aku memilihnya, mungkin karena aku terlalu terpaku dengan banyaknya mojang Sunda yang bertebaran di TV nasional. Mungkin juga karena tak pernah punya pacar seumur hidup, dari bayi sampai sekarang selalu saja mengkhayal dan mencoba menegaskan kembali legitimasiku tentang wanita. Bukan karena tak laku, tapi karena hanya ingin produk impor alias bule. Itulah alasanku pada teman-teman SMU-ku jika ditanya kenapa tidak memiliki pacar, padahal dalam hati juga ingin tapi karena tak laku jadi memasang legitimasi berlabel gengsi produk impor. hahahaha. Konyol...
Sudahlah, tinggalkan romantisme masa lalu. Kembali ketempat kuliah. Akhirnya, setelah berbagai bujukan semu a la orde baru pada rakyatnya aku menerima pinangan untuk menjadi bagian dari kampus biru dengan gelar Ahli Madya yang akan kuterima setelah lulus nanti. Dalam bayangan orang tuaku, aku akan langsung bekerja jika lulus (sampai saat ini masih seperti itu cara berpikir mereka, mungkin karena tidak begitu update tentang berita moratorium dsb). Dan kembali meneruskan kuliah jika sudah diterima kerja (alasannya menyamakan takdirku dengan anak temannya atau anak saudaranya yang juga mengambil jalan seperti). Aku harus merelakan undangan yang sejak semula ayahku pesimis terhadapnya, lagi-lagi dengan alasan dapat dengan mudah setiap orang mendapatkannya dan membandingkannya dengan jalur bidikmisi yang diterima saudara jauhku (aku tak kenal). Aku merelakannya dan mendaftar di jurusan yang di anjurkannya padaku (sebelumnya aku sudah diterima menjadi mahasiswa di kampus swasta dengan jurusan yang sama, tapi karena argumenku mentah, aku kalah dengan alasan aku tak memiliki komitmen dan harus belajar lagi untuk bersaing di jurusan itu, bukankah mahasiswa itu adalah belajar, tapi sudahlah apalgi aku masih dibayari jadi aku tak berhak menentang, walaupun itu hak-ku memilih jalan hidup). Yang kupikirkan adalah bertanggungjawab penuh setelah aku lulus dan menjauh dari mereka, kedua orang tuaku apapun yang terjadi. Sejak memasuki gerbang yang katanya merupakan gerbang kampus nomor satu se-nusantara (hanya saling salip dengan kampus jaket kuning di Depok) aku langsung melihat dua besi besar sebagai tanda selamat datang. Lagipula, dalam benakku waktu itu aku dapat bergaul dengan orang-orang yang cara berpikirnya diatasku. Aku dapat belajar banyak dari mereka. Aku dapat selalu berkunjung keperpus membaca banyak buku dan menghabiskan waktu di gedung rektorat yang melegenda itu. Aku dapat bertukar pikiran tentang sejarah, filsafat, politik, hingga ilmu-ilmu akademisi lain yang selalu kubanggakan sebagai kelebihanku.
Tapi, begitulah takdir mempermainkan harapan seseorang. Bukan mereka yang gemar membaca, berpikir, maupun menuangkan idenya. Bukan juga mereka yang mau menerima berbagai cara pandang. Tapi mereka yang gemar mabuk-mabukan, berjudi, hingga sex diluar nikahlah yang ada disekitarku. Mereka yang selalu menggunjing kelebihan orang lain, memperbudakku (titip absen hingga 11 orang perhari), iri hingga mengkhianati kawan sendiri dengan berbagai cara (tidak mencamtumkan namaku dalam kelompok, melaporkan guyonanku yang bernada satir kepegawai prodi, hingga yang paling parah hampir mengambil tempatku kerja lapangan) lengkap sudah alasanku untuk tak berteman dengan orang-orang ini di masa depan... Selama tiga tahun aku harus hidup bersama mereka, bersama kekolotan cara berpikir dan menjebak diri kedalam kebodohan yang mereka buat. Awalnya tidak cocok jurusan, ditambah dengan sikap orang-orang yang memuakkan! Dari situ, aku tak memiliki niat untuk menjalin hubungan yang baik dengan mereka. Meski mereka selalu mengajakku berjalan-jalan ke berbagai tempat, aku sama sekali tak tertarik...
Aku berpikir, itukah kutukan bagiku yang tak memiliki pendirian dalam memilih hidup. Hingga semester dua, aku menyadari semuanya bahkan menuangkannya kedalam karya pertamaku, "Gadis Kagoshima" yang separuh merekam kisah hidupku dan separuh lagi imajinasiku tentang legitimasi wanita idamanku, untuk memperkuat posisi jombloku dan hegemoniku didepan kalayak umum. Aku berusaha menghindari duniaku saat itu dengan bolos kuliah, dan itu adalah pertama kalinya aku membolos dari pendidikan formal sejak dilahirkan. Sekaligus, untuk mempertanyakan kembali apakah aku masih tepat berada ditempat ini? Memasuki akhir semester 2, aku memutuskan untuk mendaftar kembali kejurusan yang selalu kuimpikan "Hubungan Internasional" kampus FISIPOL UGM, yang kedua Sastra Jepang dan Pariwisata di FIB. Pokoknya semua yang bisa membawaku untuk melihat dunia, itulah impianku. Melihat dunia sebelum melihat akhirat. Takdir pun melemparku dari tujuan. Dari ketiganya, aku sama sekali tidak lolos. the last struggle, begitulah aku menyebutnya. Tapi bukan hanya jurusan yang kurisaukan, tapi juga teman. Aku ingin memiliki teman yang seperti FTV, saling memperdulikan dan tidak saling mengkhianati dan menggunjing kelemahan orang lain. Bagiku, mereka hanyalah sampah yang mengaku-ngaku intelektual...
Kini, hampir tiga tahun berlalu dan aku bertemu dengan seseorang yang bernasib lumayan mengenaskan. Orang itu hampir tak memiliki teman dan selalu frustasi menatap kehidupan. Tapi, dia adalah seorang petualang. Petualang yang telah mengarungi berbagai samudra di dunia. Aku sadar, meski selalu berpikir akademisi dan tak sama dengan kebanyakan orang, tapi itu hanya berlaku untuk orang-orang bodoh dan primitif. Sedangkan dikancah akademisi berlabel sarjana pemikiranku masih terlalu muda untuk dicerna dan tak satu pemahaman dengan orang-orang itu. Memang bukan jalanku untuk bersama para akademisi.
Dan sudah kuputuskan, Kapal Pesiar maupun Kapal Kargo adalah masa depan untuk menggantikan impianku yang hampir kabur. Meskipun banyak orang berkata, kerja di kapal bagaikan budak. Tapi aku belum mencobanya kan? Apalagi jika sudah tekad, sebudak apapun akan kulakukan dengan tabah meski harus seperti kuda. Apalagi, sudah diketuk moratorium PNS (hal yang selalu menjadi impian orang tuaku). Dengan begitu, aku dapat mengucapkan selamat tinggal pada tempat dan orang-orang yang tak pernah kuharapkan dalam hidup, berkata selamat tinggal pada pekerjaan yang tak pernah kusukai dalam hidup. Dan dapat bersyukur, mengingat betapa kecilnya kita di dunia yang luas ini.
Awalnya, aku tak merasakan apapun. Hanya berusaha mengikuti arus yang mengalir sepert biasanya.
Ya, seperti masa-masa SD sampai SMU. Aku dibesarkan dilingkungan menengah kebawah dalam hal berpikir, baik itu oang tuaku maupun masyarakat sekitar tempatku hidup selama ini. Tempat yang seolah tak mengijinkan memiliki pemikiran yang berbeda dari mereka. Sejak sekolah dasar hingga sekolah menengahpun aku terbiasa mengesampingkan idealismeku dalam berpikir dan mengalah dengan sistem. Diperbudak oleh sistem? Bisa jadi.
Sejak di SMU, tepatnya saat akan lulus, aku mendapatkan undangan untuk memilih universtas mana yang kuhendaki dan aku menjatuhkan pilihan di bumi Pasundan, tepatnya UnPad. Bukan apa-apa aku memilihnya, mungkin karena aku terlalu terpaku dengan banyaknya mojang Sunda yang bertebaran di TV nasional. Mungkin juga karena tak pernah punya pacar seumur hidup, dari bayi sampai sekarang selalu saja mengkhayal dan mencoba menegaskan kembali legitimasiku tentang wanita. Bukan karena tak laku, tapi karena hanya ingin produk impor alias bule. Itulah alasanku pada teman-teman SMU-ku jika ditanya kenapa tidak memiliki pacar, padahal dalam hati juga ingin tapi karena tak laku jadi memasang legitimasi berlabel gengsi produk impor. hahahaha. Konyol...
Sudahlah, tinggalkan romantisme masa lalu. Kembali ketempat kuliah. Akhirnya, setelah berbagai bujukan semu a la orde baru pada rakyatnya aku menerima pinangan untuk menjadi bagian dari kampus biru dengan gelar Ahli Madya yang akan kuterima setelah lulus nanti. Dalam bayangan orang tuaku, aku akan langsung bekerja jika lulus (sampai saat ini masih seperti itu cara berpikir mereka, mungkin karena tidak begitu update tentang berita moratorium dsb). Dan kembali meneruskan kuliah jika sudah diterima kerja (alasannya menyamakan takdirku dengan anak temannya atau anak saudaranya yang juga mengambil jalan seperti). Aku harus merelakan undangan yang sejak semula ayahku pesimis terhadapnya, lagi-lagi dengan alasan dapat dengan mudah setiap orang mendapatkannya dan membandingkannya dengan jalur bidikmisi yang diterima saudara jauhku (aku tak kenal). Aku merelakannya dan mendaftar di jurusan yang di anjurkannya padaku (sebelumnya aku sudah diterima menjadi mahasiswa di kampus swasta dengan jurusan yang sama, tapi karena argumenku mentah, aku kalah dengan alasan aku tak memiliki komitmen dan harus belajar lagi untuk bersaing di jurusan itu, bukankah mahasiswa itu adalah belajar, tapi sudahlah apalgi aku masih dibayari jadi aku tak berhak menentang, walaupun itu hak-ku memilih jalan hidup). Yang kupikirkan adalah bertanggungjawab penuh setelah aku lulus dan menjauh dari mereka, kedua orang tuaku apapun yang terjadi. Sejak memasuki gerbang yang katanya merupakan gerbang kampus nomor satu se-nusantara (hanya saling salip dengan kampus jaket kuning di Depok) aku langsung melihat dua besi besar sebagai tanda selamat datang. Lagipula, dalam benakku waktu itu aku dapat bergaul dengan orang-orang yang cara berpikirnya diatasku. Aku dapat belajar banyak dari mereka. Aku dapat selalu berkunjung keperpus membaca banyak buku dan menghabiskan waktu di gedung rektorat yang melegenda itu. Aku dapat bertukar pikiran tentang sejarah, filsafat, politik, hingga ilmu-ilmu akademisi lain yang selalu kubanggakan sebagai kelebihanku.
Tapi, begitulah takdir mempermainkan harapan seseorang. Bukan mereka yang gemar membaca, berpikir, maupun menuangkan idenya. Bukan juga mereka yang mau menerima berbagai cara pandang. Tapi mereka yang gemar mabuk-mabukan, berjudi, hingga sex diluar nikahlah yang ada disekitarku. Mereka yang selalu menggunjing kelebihan orang lain, memperbudakku (titip absen hingga 11 orang perhari), iri hingga mengkhianati kawan sendiri dengan berbagai cara (tidak mencamtumkan namaku dalam kelompok, melaporkan guyonanku yang bernada satir kepegawai prodi, hingga yang paling parah hampir mengambil tempatku kerja lapangan) lengkap sudah alasanku untuk tak berteman dengan orang-orang ini di masa depan... Selama tiga tahun aku harus hidup bersama mereka, bersama kekolotan cara berpikir dan menjebak diri kedalam kebodohan yang mereka buat. Awalnya tidak cocok jurusan, ditambah dengan sikap orang-orang yang memuakkan! Dari situ, aku tak memiliki niat untuk menjalin hubungan yang baik dengan mereka. Meski mereka selalu mengajakku berjalan-jalan ke berbagai tempat, aku sama sekali tak tertarik...
Aku berpikir, itukah kutukan bagiku yang tak memiliki pendirian dalam memilih hidup. Hingga semester dua, aku menyadari semuanya bahkan menuangkannya kedalam karya pertamaku, "Gadis Kagoshima" yang separuh merekam kisah hidupku dan separuh lagi imajinasiku tentang legitimasi wanita idamanku, untuk memperkuat posisi jombloku dan hegemoniku didepan kalayak umum. Aku berusaha menghindari duniaku saat itu dengan bolos kuliah, dan itu adalah pertama kalinya aku membolos dari pendidikan formal sejak dilahirkan. Sekaligus, untuk mempertanyakan kembali apakah aku masih tepat berada ditempat ini? Memasuki akhir semester 2, aku memutuskan untuk mendaftar kembali kejurusan yang selalu kuimpikan "Hubungan Internasional" kampus FISIPOL UGM, yang kedua Sastra Jepang dan Pariwisata di FIB. Pokoknya semua yang bisa membawaku untuk melihat dunia, itulah impianku. Melihat dunia sebelum melihat akhirat. Takdir pun melemparku dari tujuan. Dari ketiganya, aku sama sekali tidak lolos. the last struggle, begitulah aku menyebutnya. Tapi bukan hanya jurusan yang kurisaukan, tapi juga teman. Aku ingin memiliki teman yang seperti FTV, saling memperdulikan dan tidak saling mengkhianati dan menggunjing kelemahan orang lain. Bagiku, mereka hanyalah sampah yang mengaku-ngaku intelektual...
Kini, hampir tiga tahun berlalu dan aku bertemu dengan seseorang yang bernasib lumayan mengenaskan. Orang itu hampir tak memiliki teman dan selalu frustasi menatap kehidupan. Tapi, dia adalah seorang petualang. Petualang yang telah mengarungi berbagai samudra di dunia. Aku sadar, meski selalu berpikir akademisi dan tak sama dengan kebanyakan orang, tapi itu hanya berlaku untuk orang-orang bodoh dan primitif. Sedangkan dikancah akademisi berlabel sarjana pemikiranku masih terlalu muda untuk dicerna dan tak satu pemahaman dengan orang-orang itu. Memang bukan jalanku untuk bersama para akademisi.
Dan sudah kuputuskan, Kapal Pesiar maupun Kapal Kargo adalah masa depan untuk menggantikan impianku yang hampir kabur. Meskipun banyak orang berkata, kerja di kapal bagaikan budak. Tapi aku belum mencobanya kan? Apalagi jika sudah tekad, sebudak apapun akan kulakukan dengan tabah meski harus seperti kuda. Apalagi, sudah diketuk moratorium PNS (hal yang selalu menjadi impian orang tuaku). Dengan begitu, aku dapat mengucapkan selamat tinggal pada tempat dan orang-orang yang tak pernah kuharapkan dalam hidup, berkata selamat tinggal pada pekerjaan yang tak pernah kusukai dalam hidup. Dan dapat bersyukur, mengingat betapa kecilnya kita di dunia yang luas ini.
Rabu, 09 Juli 2014
Puisi Essay (Kidung Budianto)
Kidung Budianto
1
Meja dan bangku sekolah itu
Adalah saksi
Mereka adalah penonton
Diruang kelas ini
Yang kusebut neraka
Aku menangis
Aku berteriak
Tak ada yang mendengar
Tak ada yang peduli
Bagai angin
Yang datang dan pergi
Itulah suaraku, jeritanku
Tak dianggap
Tuhan, apakah kau melihatnya
Atau mendengarnya
Jika iya, mengapa hanya terdiam
Hingga aku kembali kepangkuan-Mu
Tasbih, zikir, sujud, dan doa
Seolah tak mampu
Mengirim pesanku pada-Mu
Aku tak kuat
Kini aku memilih jalan pintas
Untuk sampai pada-Mu
Cara yang durhaka
Cara yang hina
Tapi aku terpaksa
Ya Allah
Maafkan hamba-Mu ini
Yang tak mampu lagi
Hidup diduniamu
Budianto namanya
Budi panggilannya
Anak tukang tambal ban
Ibu telah meninggal diumur 2 tahun
Yang sedang bermimpi
Mengajar di universitas
Seperti yang pernah dikatakan pada ayahnya
Menjadi dosen
Itulah mimpinya
Ketika duduk dibangku SMU
Aku terpaksa
Aku membunuh teman sekelasku
Yang setiap hari menyiksaku
Hingga aku memilih
Untuk membunuh diriku sendiri
Karena tidak memiliki lagi
Masa depan
Dunia bukan milik kita
Rakyat miskin
Dunia adalah milik mereka
Para Pembesar
Para Tuan
Para Don
Nasehat ayahku
Almarhum ibuku
Wajah mereka berdua
Aku akan selalu ingat
Tapi, maafkanlah aku
Ayah ibu
Yang melanggar ajaran agama
2
Uang, siapa yang tak kenal
Benda dari koin dan kertas
Semua orang pasti
Menginginkannya
Itulah yang dapat membedakan
Derajat setiap manusia
Paling tidak, dinegeri ini
Sedangkan kecerdasan dan kepintaran
Adalah anugrah
Bagi sebagian orang
Tapi bagiku, adalah bencana
1 tahun lalu, aku masuk SMU
Sekolah swasta, sekolah bergengsi
Milik pengusaha kaya
Dengan biaya SPP
Melebihi biaya kuliah Perguruan Tinggi Negeri
Siapa yang tidak suka
Tempat rebutan ratusan
Bahkan ribuan orang tua
Yang menginginkan anaknya
Menjadi obat pelipur lara
Dari kerja keras mereka
Hanya beberapa ratus yang mampu
Melanjutkan pendidikan kesekolah bergengsi
Entah karena nilai dan kepintaran
Atau uang dan jabatan orang tua
Yang berpengaruh
Namun, itu bukanlah kebahagiaan
Bagiku, itu merupakan kutukan
Diantara puluhan anak lain
Aku yang paling miskin
Tapi aku juga yang paling cerdas
Dan mereka iri
Padaku
Hingga suatu hari aku membunuh
Anak pemilik sekolah
Yang kaya raya
Karena, setiap hari
Melakukan bully 1
Melakukan kekerasan
Hanya karena memiliki kekuasaan
Dan akhirnya, uanglah yang bertindak
Menyelesaikan segala masalah
Itulah dunia, dunia untukku
3
Pengunguman yang terpampang dipapan
Betapa beruntungnya aku
3.980 anak SMP
Aku termasuk diantara 250 anak
Yang berhak berseragam kotak-kotak
Layaknya tokoh animasi
Disekolah bergengsi, aku mendapat beasiswa
Atas rekomendasi SMP-ku
Meski sekolah swasta
Biaya ditanggun sepenuhnya oleh pengusaha
Orang kaya
Versi majalah Forbes
Dari Indonesia
Pemilik sekolah
Wajah ayahhku, begitu bergembira
Namun, masih menginginkanku
Untuk masuk kesekolah negeri
Karena minder
Karena kedudukan
Namun, mereka mengiming-imingi
Dapat belajar gratis
Bahkan keluar negeri
Meyakinkan orang tuaku
Untuk tak membuang kesempatan
Yang datang
Orang desa yang lugu
Hanya anggukan kepala
Pertanda jawaban setuju
Untuk melepasku, disekolah bergengsi
Hanya anak
Dari keluarga sederhana
Yang tak muluk-muluk
Menjalani kehidupan
Yang mengandalkan kecerdasan
Diantara anak superior
High class
Untuk mengangkat derajat
“Bapak”
4
Pihak sekolah menyayangiku
Bukan hanya karena nilai masuk
Juga nilai setiap hari
Melebihi rata-rata
Alhamdulillah, atas anugrah-Mu
Ya Allah
Padaku hamba-Mu ini
Sejak hari itu
Aku sudah bersumpah
Untuk menggapai impian
Membuat ayahku tersenyum
Dari tempat ini
Ya, sekolah bergengsi
Sekolah milik konglomerat kaya
Aku terus belajar, dengan tekun
Seperti disekolahku dulu
SMP pinggir kota
Dengan teman-teman yang tak beda jauh
Dari keadaan keluarga kami
Tapi disini
Anak disekitarku, adalah turunan konglomerat
Dan aku, satu-satunya
Yang masuk dengan nilai
Tapi sayang, usahaku
Kepintaranku, kecerdasanku, dan kasih sayang
Dari guru, adalah bumerang
Mendapat tanggapan negatif
Dari teman sekelas
Ejekan anak emas
Hingga anak caper
Sudah biasa kudengarkan
5
Satu hingga dua kali kudengarkan
Aku masih menerima
Toh, ditempat asalku aku sudah terbiasa
Meski hanya untuk guyonan
Dan bercanda
Toh, aku bukan seorang pemarah
Yang mudah emosi
Hanya dari ejekan
Toh, keluargaku sudah terbiasa
Terhina
Perlahan tapi pasti
Aku bagai hidup diantara 2 tempat
Antara surga dan neraka
Didepan guruku, Ibu Ambar
Aku bagai melihat malaikat
Ketika setan-setan lain mengerubungiku
Seorang wanita, yang keibuan
Selalu peduli denganku
Meski keturunan darah lumpur
Sebutanku yang lain
Karena menjadi satu-satunya anak
Yang bukan golongan atas
Nilai yang semakin baik
Hingga ranking 1 dikelas
Betapa bangganya aku
Darah lumpur ini
Menjadi juara diantara darah emas
5
Waktu yang cepat berlalu
Ternyata mampu mengubah perilaku
Dari ejekan
Menjadi fisik
Senyumanku, ditempat ini
Tak bertahan selamanya
Ya, hanya sementara
Memasuki bangku kelas 2
Hinaan yang mampu kutahan
Berubah arah menjadi ancaman
Ancaman yang setiap hari kudengarkan
Berubah menjadi baku hantam
Didalam kelas
Bagaikan sasana tinju
Hanya karena iri hati 2
Mereka melakukannya
Bak, buk, bak, buk 3
Berkali-kali
Lebih dari 1 orang
Wajah biru yang selalu terlihat
Terkadang melukai ayahku
Siapa yang tak tega
Jika anaknya mendapat kekerasan disekolah
Hanya karena lebih pintar
Dan dari keluarga
Yang lebih rendah diantara mereka
Teman sekelas, yang kaya raya
Ketika pulang
Aku selalu berbohong
Dari latihan karate
Untuk menghapus duka
Dihati bapak
Tak sampai disitu
Tas yang disembunyikan
Dikunci didalam kamar mandi
Diboikot dari kerja kelompok
Hingga fitnah mencuri barang milik sekolah
Adalah makanan sehari-hariku
Terkadang bertanya pada diri sendiri
Jika disuatu tempat ada Tuhan
Kirimkanlah kebaikan-Mu
Jawablah doaku
Pertanda hamba-Mu
Yang menderita
(Budi masih belum mengerti, di Indonesia
Budaya kekerasan dan bully adalah hal yang termasuk biasa
Entah karena iri, senioritas, atau sikap berkuasa
Hanya anak yang lugu, tak tahu apapun
Hanya ingin menggapai impian
Dengan apa yang dimiliki)
6
Aku sempat berpikir
Untuk mengakhirinya
Dan pindah ketempat lain
Yang dapat menerimaku
Tapi, beasiswa tak dapat dicairkan
Dan, untuk mendaftar kesekolah lain
Pasti perlu biaya lebih
Lalu siapa yang akan menanggung
Pernah aku berkata pada ayahku
Untuk berhenti dan menjadi buruh
Kuli ataupun membantu ayahku
Tapi, beliau berkata
Sekolah dulu nak
Jangan buang usiamu
Jangan menjadi seperti aku
Tukang tambal ban yang lusuh
Terpikir olehku
Untuk berpura-pura
Menjadi bodoh
Membuang anganku
Mengabaikan kelebihanku
Memaki-maki diriku sendiri
Aku harus tahan
Aku harus tahan
Demi senyum ayahku
Mahkluk hidup yang menyayangiku
Selain guruku, Ibu Ambar
Kulewati hari-hariku dengan kebohongan 4
Nilai yang mulai turun
Ranking 20 dari 20 anak
Dikelas
Hingga Ibu Ambar memanggilku
Ada apa denganmu, Budi
Kau bukan dirimu yang pernah kukenal
Apakah kau memiliki masalah
Bicaralah
Ibu akan selalu membantu
Ibu selalu sayang padamu, nak
Air mataku mengalir
Menyirami hatiku yang terluka
Betapa perihnya
Rasa sakit yang kutahan
Mulutku tak mampu bicara
Menutupi segalanya 5
Tak mau merepotkan orang lain
Hanya karena aku
Tak apa bu
Aku baik-baik saja
Itulah jawabanku
Yang keluar dari mulutku
Meski tak sesuai dengan kata hatiku
7
Meski selalu hidup dalam kebohongan
Lebih baik daripada siksaan
Dari teman-temanku
Tapi, terlihat kembali wajah ayahku
Apakah aku harus mengorbankan senyuman beliau
Orang yang kusayangi, setelah ibuku meninggal
Hanya untuk menghindari siksaan
Apakah aku harus mengorbankan senyuman beliau
Hanya untuk diriku sendiri
Timbul perasaan ini
Aku ingin kembali
Pada diriku
Apalagi teringat kata Ibu Ambar
Yang akan selalu menyayangiku
Ketika aku lemah
Wajah Bu Ambar
Tersenyum padaku
Aku kalah juga
Aku ingin mengadukan padanya
Ibu Ambar
Karena tak mau
Membuat ayahku
Yang tak tahu apapun
Hanya orang tua bodoh
Yang tak pernah mengetahui
Hukum rimba
Yang telah berlaku didunia
Melelehkan air matanya
Hanya karena aku
Ibu Ambar
Malaikat yang menyayangiku
Mengadukan kasusku didewan guru
Tapi, inilah kehidupan
Sekolah swasta
Yang mencari uang dari siswa
Tak mau kehilangan murid
Apalagi anak orang kaya
Yang lebih menguntungkan
Ditambah, anak pemilik sekolah
Ikut diantara orang
Yang menganiayaku
Karena menuduhku
Merebut perhatian para guru
Para pembesar sekolah
Bahkan orang tuanya
Yang memberi beasiswa padaku
Dewan guru diam
Tak berbicara
Tak berani berkomentar
Menghadapi anak ini
Yang bernama Ian
Yang memang terkenal urakan
Tapi, dia adalah pangeran disini
Dewan guru hanya abdi baginya
Sebelum berita menyebar
Memenuhi saluran infotaimen
Memenuhi acara gossip
Dewan guru sepakat
Hasilnya
Atas saran dari orang tua Ian
Kepala sekolah berkata
Ibu Ambar dipecat
Apa? Ya itulah faktanya
Malaikatku seperti dipotong sayapnya
Oleh Tuhan ditempat ini
Karena tak mau malu
Dari perbuatan anaknya
Yang dapat mencemarkan
Nama baik mereka
Si orang kaya majalah Forbes
Aku harus hidup sendiri
Tanpa perlindungan
Pesan terakhir dari beliau
Tetaplah jadi dirimu sendiri
Meski menghadapi banyak masalah
Jangan hianati dirimu
Jangan buang impianmu
Jangan kalah oleh dunia
Adalah kata penyemangat
(Budi masih begitu polos
Dinegeri ini, yang berpengaruh
Akan mendapat posisi istimewa
Apalagi ditambah dengan materi)
8
Tapi, seberapa kuatnya seseorang
Suatu hari nanti akan lemah
Dan hari itulah
Aku merasa telah kalah
Oleh siksaan dunaiwi
Oleh siksaan iblis
Oleh siksaan semu
Diatap sekolah
Aku menghabiskan waktuku sendiri
Menghindari anak lain
Meski kembali mengadu
Suaraku tak didengar
Para guru
Tak mau mengalami nasib sama
Seperti Bu Ambar
Terbayang untuk menjadi burung
Ya, melompat dari gedung ini
Dan terbang hingga alam baka
Hanya itulah yang kuinginkan
Untuk terbebas dari dunia ini
Namun, hatiku berontak
Hatiku berteriak
Hatiku menamparku
Agamaku juga telah mengajari
Tak akan masuk surga
Orang yang mendahului takdir Allah
8
Dalam hati aku berbisik
Jika kecerdasan ini
Hanya masalah bagiku
Kenapa Kau tak mengambilnya
Tuhanku
Jika dunia ini hanya untuk orang kaya 6
Kenapa kau tak jadikan
Semua hamba-Mu
Menjadi kaya
Aku tak tahan
Aku tak tahan
Aku ingin menjadi diriku
Apa salahnya menjadi pintar
Apa karena aku miskin
Tak pantas seperti mereka
Tapi, hari ini aku ingin dihargai
Meski harga diriku
Memang lebih rendah dimata mereka
Aku ingin bela pati
Membela diriku sendiri
Membela harga diriku
Cutter dari teman perempuan
Yang setiap hari dimejanya
Bagaikan pedang dimataku
Satu lawan 14
Aku tak dapat berpikir
Hal yang selama ini kupendam
Lama-lama menjadi dendam
Lama-lama menjadi kekuatan
Yang tersembunyi
Kebaikanku, kesabaranku, senyumanku
Perlahan menghilang
Disaat pukulan
Tanpa meliihat siapa didepanku
Aku menusukkannya
Cutter yang runcing
Dan jlep
Noda darah membasahi bajunya
Anak pemilik sekolah ini
Penguasa nomor 2
Setelah ayahnya
Betapa bodohnya aku
Mataku telah buta
Aku kalap
13 pria yang ada disekitarku
Mengambil langkah mundur
Perlahan
Aku menang
Melawan tirani mayoritas
Tapi sebenarnya
Inilah akhir hidupku
Hukum menanti didepanku
Wajah ayahku kembali terbayang
Nasehat Bu Ambar kembali terdengar
Diam tak berbicara
Aku juga menyadarinya
Aku tak akan menang 7
Aku akan kalah
Melawan mereka dimeja hijau
Meski membela diri
Uang yang akan berbicara
Seperti yang dialami Ibu Ambar
Apalagi aku hidup dinegeri ini
Negeri yang unik
Negeri yang hebat
Hukum adalah aturan
Untuk kami rakyat kecil
Hukum adalah alat
Untuk kami rakyat jelata
Hukum adalah karya
Dari mereka, para penguasa
9
Meja hijau
Pasal dan tuntutan tak ada bedanya
Pengacara ataupun pembela
Bagiku tak ada gunanya
Uanglah yang akan menyelesaikannya
Masalah ini, masalah yang menimpaku
Dan aku, telah kalah
Ayahku menahan air mata
Melihat anaknya
Duduk dikursi terdakwa
Keluarga sederhana ini
Harus berhadapan dengan hukum
Ribuan ayat dari pasal yang tebal
Telah dibaca
Didepanku
Palu hakim diketuk
Ayahku telah menangis
Beliau yang biasanya tegar
Kini juga kalah
Dengan kejamnya keadilan
Memikirkan masa depanku
Memikirkan ganti rugi
Yang harus ditanggung
Dari tuntutan pihak korban
Karena aku
Dianggap anak durhaka
Yang tak tahu berterimakasih
Pada mereka, penguasa
Tanpa menyuappun, aku telah kalah 8
Yang telah membiayai sekolahku
Dan aku, harus mengubur mimpiku
Yang harus mengalah pada uang
Harus kalah pada kekuasaan
Siapa yang peduli dengan kami
Ayahku bukan ahli komputer
Yang dapat menuliskan keluhan di Facebook
Komputerpun aku tak punya
Gaji ayahku, tentu tak cukup
Membeli seperangkat komputer
Dan mendapat koin sumbangan
Dari rakyat Indonesia
Atas nama solidaritas
10
3 hari lalu
Kejadian itu menimpaku
Aku masih kaget
Didepan pusara ibuku aku menangis
Apa yang kulakukan
Aku gagal
Memenuhi janjiku
Untuk menemani ayah
Hingga akhir hayatnya
Sebelum masuk jeruji besi
Dan membayar ganti rugi
Aku kembali kesekolah
Menaiki atap
Tempatku menyendiri
Selama disekolah
Sudah tak tersisa
Tinggal ayahku
Yang kini bersama kesendirian
Betapa keadilan itu
Sangat mahal
Baru kusadari
Sekolah ini
Adalah alat politik, dari orang kaya
Untuk menyedot perhatian publik
Karena beliau, ingin menjadi pejabat negara
Itulah sebabnya, aku dipertahankan
Karena kepintaran
Dan akan menjadi nilai jual
Hingga akhirnya kejadian ini terjadi
Mereka seolah menjadi korban
Anaknya adalah korban dari brandalan
Sepertiku
Dengan begitu, orang yang bersimpati semakin banyak
Suara untuk memilihnya menjadi pejabat, semakin banyak
Tak ada yang bisa dilakukan
Ketika aku mati
Semuanya akan beres
Orang tuaku tak perlu menebus
Tak perlu mendengar tuntutan hukum
Dan masalah, selesai
Nyawa balas nyawa
Akhirnya, aku dapat menjadi burung 9
Yang telah lama kuimpikan
Ketika masuk ketempat ini
Burung
Burung
Itulah aku sekarang
Yang akan terbang
11
Aku dapat tersenyum
Ayah,
Aku akan menyusul Ibu
Yang telah ada disana
Sekarang aku terpaksa
Aku tinggalkan engkau sendiri
Menghadapi kerasnya dunia
Yang telah kurasakan
Seragam kotak-kotak yang kupakai
Adalah pakaian terakhirku
Dibumi ini
Seblum berganti kafan putih
Entah surga atau neraka
Yang akan menyambutku
Terbebas dari hukum dunia
Aku sekarang akan menghadapi
Hukum akhirat
Meski Tuhan tak menerimaku
Itu lebih baik
Itu lebih adil
Aku dapat menerima
Kitab Laumul Mahfuz
Hasil penilaian
Dari apa yang kulakukan
Keadilan yang sejati
Akan kudapati, disana
Meski masih ada
Siksaan yang jauh lebih hebat
Dan hakim
Adalah Tuhanku sendiri
Yang duduk disana
Singgasana Arsy
Diatas langit lapis 7
Selamat tinggal dunia
Terimakasih telah menerimaku
Catatan Kaki
1. Indonesia termasuk negara dengan kekerasan atau tingkat bully nomor 2 sedunia dibawah Jepang. Entah di institusi pendidikan, lingkungan, ataupun keluarga. Sumber: http://ciricara.com/2012/10/19/indonesia-masuk-daftar-negara-dengan-kasus-bullying-tertinggi/
2. Budaya bully pasti selalu terdapat disetiap institusi pendidikan, biasanya disebabkan diskriminasi guru terhadap anak didik, kesenjangan siswa kaya dan miskin, pola pikir masyarakat yang kaku, dan bimbingan yang tidak layak. Hingga kini, tradisi tersebut masih ada meski semakin sedikit. Sumber: http://www.stkippasundan.ac.id/2012/11/05/bullying-dalam-dunia-pendidikan/
3. Kekerasan di Indonesia seolah menjadi tradisi. Kasus bully di Indonesia yang banyak menjadi sorotan adalah Jakarta dengan SMU Don Bosco yang pernah dipublikasi. Sangat terbuka kemungkinan didaerah juga bersemi tradisi serupa, seperti di Pati dengan geng Nero, dll. Sumber: http://www.tribunnews.com/topics/bullying-di-sma-don-bosco
4. Kasus bully juga berdampak pada psikologi anak. Mulai dari mengurung diri, menangis, nilai turun, dll. Sumber: http://gmc-bekasi.blogspot.com/2010/11/bullying-penyebab-menurunnya-prestasi.html
5. Tidak semua kasus bully terungkap karena banyak korban yang tidak berani melapor. Entah karena takut kehilangan teman atau menjadi perhatian banyak orang. Sumber : http://sampulbaca.blogspot.com/2013/03/bullying-di-sekolah.html
6. Di Indonesia, masalah ketimpangan social kaya dan miskin masih menjadi tolak ukur kedudukan. Sumber : http://www.academia.edu/3735548/Kesenjangan_Sosial_dalam_persepektif_sistem_sosial_Talcott_Parsons
7. Sedangkan sistem pengadilan di Indonesia memang lebih banya berpihak kepada kaum menengah keatas. Ketidakadilan hukum di Indonesia adalah masalah klasik. Sejak Kemerdekaan hingga saat ini sulit menemukan penyelesaian hukum tanpa campur tangan amplop dan orang yang berpengaruh. Sumber: http://hasanwijaya766hi.blogspot.com/2013/05/ketidakadilan-hukum-di-indonesia.html
8. Keterkaitan ketidakadilan hukum di Indonesia dengan praktik KKN sangat tinggi, bahkan saling berhubungan satu sama lain. Bisa dibilang penegakan hukum merupakan bisnis baru bagi sebagian penegak hukum. Sumber: http://ksm-unas.com/archives/163
Korban bully yang berat, biasanya akan berakhir dengan tindakan nekat seperti membunuh hingga bunuh diri karena tidak kuat. Sumber : http://www.gadis.co.id/gaul/aksi/bunuh.diri.akibat.bullying/001/006/194
Langganan:
Postingan (Atom)