Sabtu, 21 Februari 2015

Apakah definisi dari bahagia? Terlalu abstrak kawan. Terlalu naif jika mendefinisikan bahagia dengan apa yang dilakukan oleh banyak orang, seolah kebahagiaan hanya milik mereka yang masuk ke dunia mayoritas. Tidak semua kebahagiaan dapat dilihat dari mata dan diucapkan dari mulut, tapi dirasakan dari hati. Karena banyak orang yang menilai kadar bahagia dari banyaknya harta yang dimiliki, barisan mobil mewah yang berjajar di garasi, maupun para selir yang silih berganti siap melayani.
Bukan, bukan itu. Kebahagiaan tak akan sepicik itu dalam menerjemahkan dirinya sendiri...
Orang lain tak dapat memaksakan definisi bahagianya pada kita, begitupun sebaliknya. Bahagia, begitu sederhana dirasakan, tapi begitu sulit didefinisikan. Bahkan, ketika bermimpi pun seseorang dapat berbahagia dengan dunianya sendiri. Sesederhana itu, tapi mengapa sulit diterjemahkan? Karena kebanyakan orang, tak mau melihat apa yang ada di dalam hati orang lain. Alasannya, karena kita bukan Tuhan yang dapat membaca hati orang lain. Kita hanya sesama manusia yang buta apa itu makna bahagia menurut kamus kehidupan masing-masing manusia. Mungkin karena itulah, kita tak dapat memaksakan kebahagiaan kita terhadap orang lain. Dan mengapa dunia begitu sulit mendapat hakikat sejati dari "bahagia"...
Dini hari tadi, aku mendapat surat pendek dari ponsel, yang berisi "Semoga kamu bahagia kedepannya". Terdengar sederhana, namun karena yang mengucapkan adalah orang yang kukagumi bahkan terlanjur kucintai. Kebahagiaan berupa cucuran air mata perpisahan dapat kurasakan, meski kita tak memiliki ikatan apapun bahkan aku masih menjadi orang asing baginya. Terimakasih, aku akan selalu bahagia, karena aku mengerti posisiku...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar