Rabu, 09 Juli 2014

Puisi Essay (Kidung Budianto)



Kidung Budianto 

1
Meja dan bangku sekolah itu
Adalah saksi
Mereka adalah penonton
Diruang kelas ini
Yang kusebut neraka

Aku menangis
Aku berteriak
Tak ada yang mendengar
Tak ada yang peduli
Bagai angin
Yang datang dan pergi
Itulah suaraku, jeritanku 
Tak dianggap

Tuhan, apakah kau melihatnya
Atau mendengarnya
Jika iya, mengapa hanya terdiam
Hingga aku kembali kepangkuan-Mu
Tasbih, zikir, sujud, dan doa
Seolah tak mampu
Mengirim pesanku pada-Mu
Aku tak kuat
Kini aku memilih jalan pintas
Untuk sampai pada-Mu 
Cara yang durhaka
Cara yang hina

Tapi aku terpaksa
Ya Allah
Maafkan hamba-Mu ini
Yang tak mampu lagi
Hidup diduniamu

Budianto namanya
Budi panggilannya
Anak tukang tambal ban 
Ibu telah meninggal diumur 2 tahun 
Yang sedang bermimpi
Mengajar di universitas 
Seperti yang pernah dikatakan pada ayahnya
Menjadi dosen
Itulah mimpinya

Ketika duduk dibangku SMU
Aku terpaksa
Aku membunuh teman sekelasku
Yang setiap hari menyiksaku
Hingga aku memilih
Untuk membunuh diriku sendiri
Karena tidak  memiliki lagi
Masa depan

Dunia bukan milik kita
Rakyat miskin
Dunia adalah milik mereka
Para Pembesar
Para Tuan
Para Don

Nasehat ayahku
Almarhum ibuku 
Wajah mereka berdua
Aku akan selalu ingat
Tapi, maafkanlah aku 
Ayah ibu
Yang melanggar ajaran agama

2
Uang, siapa yang tak kenal
Benda dari koin dan kertas
Semua orang pasti
Menginginkannya
Itulah yang dapat membedakan
Derajat setiap manusia
Paling tidak, dinegeri ini
Sedangkan kecerdasan dan kepintaran
Adalah anugrah
Bagi sebagian orang
Tapi bagiku, adalah bencana

1 tahun lalu, aku masuk SMU
Sekolah swasta, sekolah bergengsi
Milik pengusaha kaya 
Dengan biaya SPP
Melebihi biaya kuliah Perguruan Tinggi Negeri
Siapa yang tidak suka
Tempat rebutan ratusan
Bahkan ribuan orang tua
Yang menginginkan anaknya
Menjadi obat pelipur lara
Dari kerja keras mereka

Hanya beberapa ratus yang mampu
Melanjutkan pendidikan kesekolah bergengsi
Entah karena nilai dan kepintaran
Atau uang dan jabatan orang tua
Yang berpengaruh

Namun, itu bukanlah kebahagiaan
Bagiku, itu merupakan kutukan
Diantara puluhan anak lain
Aku yang paling miskin
Tapi aku juga yang paling cerdas
Dan mereka iri
Padaku

Hingga suatu hari aku membunuh
Anak pemilik sekolah
Yang kaya raya
Karena, setiap hari
Melakukan bully 1
Melakukan kekerasan
Hanya karena memiliki kekuasaan

Dan akhirnya, uanglah yang bertindak
Menyelesaikan segala masalah
Itulah dunia, dunia untukku

3
Pengunguman yang terpampang dipapan
Betapa beruntungnya aku
3.980 anak SMP
Aku termasuk diantara 250 anak
Yang berhak berseragam kotak-kotak
Layaknya tokoh animasi

Disekolah bergengsi, aku mendapat beasiswa
Atas rekomendasi SMP-ku
Meski sekolah swasta
Biaya ditanggun sepenuhnya oleh pengusaha
Orang kaya
Versi majalah Forbes
Dari Indonesia
Pemilik sekolah

Wajah ayahhku, begitu bergembira
Namun, masih menginginkanku
Untuk masuk kesekolah negeri
Karena minder
Karena kedudukan

Namun, mereka mengiming-imingi
Dapat belajar gratis
Bahkan keluar negeri
Meyakinkan orang tuaku
Untuk tak membuang kesempatan
Yang datang
Orang desa yang lugu
Hanya anggukan kepala
Pertanda jawaban setuju
Untuk melepasku, disekolah bergengsi 

Hanya anak 
Dari keluarga sederhana
Yang tak muluk-muluk 
Menjalani kehidupan 
Yang mengandalkan kecerdasan
Diantara anak superior
High class
Untuk mengangkat derajat 
“Bapak” 

4
Pihak sekolah menyayangiku
Bukan hanya karena nilai masuk
Juga nilai setiap hari 
Melebihi rata-rata
Alhamdulillah, atas anugrah-Mu
Ya Allah 
Padaku hamba-Mu ini

Sejak hari itu
Aku sudah bersumpah
Untuk menggapai impian
Membuat ayahku tersenyum
Dari tempat ini
Ya, sekolah bergengsi
Sekolah milik konglomerat kaya

Aku terus belajar, dengan tekun
Seperti disekolahku dulu
SMP pinggir kota
Dengan teman-teman yang tak beda jauh 
Dari keadaan keluarga kami
Tapi disini
Anak disekitarku, adalah turunan konglomerat
Dan aku, satu-satunya 
Yang masuk dengan nilai

Tapi sayang, usahaku 
Kepintaranku, kecerdasanku, dan kasih sayang 
Dari guru, adalah bumerang 
Mendapat tanggapan negatif 
Dari teman sekelas
Ejekan anak emas
Hingga anak caper
Sudah biasa kudengarkan

5
Satu hingga dua kali kudengarkan
Aku masih menerima
Toh, ditempat asalku aku sudah terbiasa
Meski hanya untuk guyonan
Dan bercanda
Toh, aku bukan seorang pemarah
Yang mudah emosi
Hanya dari ejekan
Toh, keluargaku sudah terbiasa
Terhina

Perlahan tapi pasti
Aku bagai hidup diantara 2 tempat
Antara surga dan neraka
Didepan guruku, Ibu Ambar
Aku bagai melihat malaikat
Ketika setan-setan lain mengerubungiku

Seorang wanita, yang keibuan
Selalu peduli denganku
Meski keturunan darah lumpur
Sebutanku yang lain
Karena menjadi satu-satunya anak
Yang bukan golongan atas

Nilai yang semakin baik
Hingga ranking 1 dikelas
Betapa bangganya aku
Darah lumpur ini
Menjadi juara diantara darah emas

5
Waktu yang cepat berlalu
Ternyata mampu mengubah perilaku
Dari ejekan
Menjadi fisik
Senyumanku, ditempat ini
Tak bertahan selamanya
Ya, hanya sementara

Memasuki bangku kelas 2
Hinaan yang mampu kutahan
Berubah arah menjadi ancaman
Ancaman yang setiap hari kudengarkan
Berubah menjadi baku hantam
Didalam kelas
Bagaikan sasana tinju
Hanya karena iri hati 2
Mereka melakukannya
Bak, buk, bak, buk 3
Berkali-kali
Lebih dari 1 orang
Wajah biru yang selalu terlihat
Terkadang melukai ayahku
Siapa yang tak tega
Jika anaknya mendapat kekerasan disekolah
Hanya karena lebih pintar
Dan dari keluarga
Yang lebih rendah diantara mereka
Teman sekelas, yang kaya raya

Ketika pulang
Aku selalu berbohong 
Dari latihan karate
Untuk menghapus duka
Dihati bapak  

Tak sampai disitu
Tas yang disembunyikan
Dikunci didalam kamar mandi
Diboikot dari kerja kelompok 
Hingga fitnah mencuri barang milik sekolah
Adalah makanan sehari-hariku

Terkadang bertanya pada diri sendiri
Jika disuatu tempat ada Tuhan
Kirimkanlah kebaikan-Mu
Jawablah doaku
Pertanda hamba-Mu
Yang menderita 

(Budi masih belum mengerti, di Indonesia
Budaya kekerasan dan bully adalah hal yang termasuk biasa
Entah karena iri, senioritas, atau sikap berkuasa
Hanya anak yang lugu, tak tahu apapun
Hanya ingin menggapai impian
Dengan apa yang dimiliki)

6
Aku sempat berpikir
Untuk mengakhirinya
Dan pindah ketempat lain
Yang dapat menerimaku
Tapi, beasiswa tak dapat dicairkan
Dan, untuk mendaftar kesekolah lain
Pasti perlu biaya lebih
Lalu siapa yang akan menanggung

Pernah aku berkata pada ayahku
Untuk berhenti dan menjadi buruh
Kuli ataupun membantu ayahku 
Tapi, beliau berkata
Sekolah dulu nak
Jangan buang usiamu
Jangan menjadi seperti aku
Tukang tambal ban yang lusuh

Terpikir olehku
Untuk berpura-pura
Menjadi bodoh
Membuang anganku
Mengabaikan kelebihanku
Memaki-maki diriku sendiri
Aku harus tahan
Aku harus tahan
Demi senyum ayahku
Mahkluk hidup yang menyayangiku
Selain guruku, Ibu Ambar

Kulewati hari-hariku dengan kebohongan 4
Nilai yang mulai turun
Ranking 20 dari 20 anak
Dikelas
Hingga Ibu Ambar memanggilku
Ada apa denganmu, Budi 
Kau bukan dirimu yang pernah kukenal
Apakah kau memiliki masalah
Bicaralah
Ibu akan selalu membantu
Ibu selalu sayang padamu, nak
Air mataku mengalir
Menyirami hatiku yang terluka
Betapa perihnya
Rasa sakit yang kutahan

Mulutku tak mampu bicara
Menutupi segalanya 5
Tak mau merepotkan orang lain
Hanya karena aku
Tak apa bu
Aku baik-baik saja
Itulah jawabanku
Yang keluar dari mulutku
Meski tak sesuai dengan kata hatiku

7
Meski selalu hidup dalam kebohongan
Lebih baik daripada siksaan
Dari teman-temanku
Tapi, terlihat kembali wajah ayahku 
Apakah aku harus mengorbankan senyuman beliau
Orang yang kusayangi, setelah ibuku meninggal 
Hanya untuk menghindari siksaan
Apakah aku harus mengorbankan senyuman beliau 
Hanya untuk diriku sendiri
Timbul perasaan ini
Aku ingin kembali
Pada diriku
Apalagi teringat kata Ibu Ambar
Yang akan selalu menyayangiku
Ketika aku lemah

Wajah Bu Ambar
Tersenyum padaku
Aku kalah juga
Aku ingin mengadukan padanya
Ibu Ambar 
Karena tak mau
Membuat ayahku 
Yang tak tahu apapun
Hanya orang tua bodoh
Yang tak pernah mengetahui
Hukum rimba
Yang telah berlaku didunia 
Melelehkan air matanya
Hanya karena aku

Ibu Ambar
Malaikat yang menyayangiku
Mengadukan kasusku didewan guru
Tapi, inilah kehidupan
Sekolah swasta
Yang mencari uang dari siswa
Tak mau kehilangan murid
Apalagi anak orang kaya
Yang lebih menguntungkan 

Ditambah, anak pemilik sekolah
Ikut diantara orang
Yang menganiayaku
Karena menuduhku
Merebut perhatian para guru
Para pembesar sekolah
Bahkan orang tuanya
Yang memberi beasiswa padaku
Dewan guru diam
Tak berbicara
Tak berani berkomentar
Menghadapi anak ini
Yang bernama Ian
Yang memang terkenal urakan
Tapi, dia adalah pangeran disini
Dewan guru hanya abdi baginya

Sebelum berita menyebar
Memenuhi saluran infotaimen
Memenuhi acara gossip
Dewan guru sepakat
Hasilnya
Atas saran dari orang tua Ian
Kepala sekolah berkata
Ibu Ambar dipecat
Apa? Ya itulah faktanya
Malaikatku seperti dipotong sayapnya
Oleh Tuhan ditempat ini 
Karena tak mau malu
Dari perbuatan anaknya
Yang dapat mencemarkan
Nama baik mereka
Si orang kaya majalah Forbes

Aku harus hidup sendiri
Tanpa perlindungan
Pesan terakhir dari beliau
Tetaplah jadi dirimu sendiri
Meski menghadapi banyak masalah
Jangan hianati dirimu
Jangan buang impianmu
Jangan kalah oleh dunia
Adalah kata penyemangat

(Budi masih begitu polos
Dinegeri ini, yang berpengaruh 
Akan mendapat posisi istimewa
Apalagi ditambah dengan materi)

8
Tapi, seberapa kuatnya seseorang 
Suatu hari nanti akan lemah
Dan hari itulah
Aku merasa telah kalah
Oleh siksaan dunaiwi
Oleh siksaan iblis 
Oleh siksaan semu

Diatap sekolah
Aku menghabiskan waktuku sendiri
Menghindari anak lain
Meski kembali mengadu
Suaraku tak didengar
Para guru
Tak mau mengalami nasib sama
Seperti Bu Ambar
Terbayang untuk menjadi burung
Ya, melompat dari gedung ini
Dan terbang hingga alam baka
Hanya itulah yang kuinginkan
Untuk terbebas dari dunia ini

Namun, hatiku berontak
Hatiku berteriak
Hatiku menamparku
Agamaku juga telah mengajari
Tak akan masuk surga
Orang yang mendahului takdir Allah

8
Dalam hati aku berbisik 
Jika kecerdasan ini
Hanya masalah bagiku
Kenapa Kau tak mengambilnya
Tuhanku
Jika dunia ini hanya untuk orang kaya 6
Kenapa kau tak jadikan
Semua hamba-Mu
Menjadi kaya

Aku tak tahan
Aku tak tahan
Aku ingin menjadi diriku
Apa salahnya menjadi pintar
Apa karena aku miskin
Tak pantas seperti mereka
Tapi, hari ini aku ingin dihargai
Meski harga diriku 
Memang lebih rendah dimata mereka
Aku ingin bela pati
Membela diriku sendiri
Membela harga diriku

Cutter dari teman perempuan
Yang setiap hari dimejanya
Bagaikan pedang dimataku
Satu lawan 14
Aku tak dapat berpikir
Hal yang selama ini kupendam
Lama-lama menjadi dendam
Lama-lama menjadi kekuatan 
Yang tersembunyi
Kebaikanku, kesabaranku, senyumanku
Perlahan menghilang
Disaat pukulan
Tanpa meliihat siapa didepanku
Aku menusukkannya
Cutter yang runcing
Dan jlep
Noda darah membasahi bajunya
Anak pemilik sekolah ini
Penguasa nomor 2
Setelah ayahnya

Betapa bodohnya aku
Mataku telah buta
Aku kalap
13 pria yang ada disekitarku
Mengambil langkah mundur
Perlahan
Aku menang
Melawan tirani mayoritas 
Tapi sebenarnya
Inilah akhir hidupku

Hukum menanti didepanku
Wajah ayahku kembali terbayang
Nasehat Bu Ambar kembali terdengar 
Diam tak berbicara
Aku juga menyadarinya
Aku tak akan menang 7
Aku akan kalah
Melawan mereka dimeja hijau
Meski membela diri
Uang yang akan berbicara
Seperti yang dialami Ibu Ambar

Apalagi aku hidup dinegeri ini
Negeri yang unik
Negeri yang hebat
Hukum adalah aturan 
Untuk kami rakyat kecil
Hukum adalah alat
Untuk kami rakyat jelata
Hukum adalah karya
Dari mereka, para penguasa

9
Meja hijau
Pasal dan tuntutan tak ada bedanya
Pengacara ataupun pembela
Bagiku tak ada gunanya
Uanglah yang akan menyelesaikannya
Masalah ini, masalah yang menimpaku

Dan aku, telah kalah
Ayahku menahan air mata 
Melihat anaknya
Duduk dikursi terdakwa 
Keluarga sederhana ini
Harus berhadapan dengan hukum
Ribuan ayat dari pasal yang tebal
Telah dibaca
Didepanku

Palu hakim diketuk
Ayahku telah menangis 
Beliau yang biasanya tegar
Kini juga kalah
Dengan kejamnya keadilan 
Memikirkan masa depanku
Memikirkan ganti rugi
Yang harus ditanggung
Dari tuntutan pihak korban
Karena aku
Dianggap anak durhaka
Yang tak tahu berterimakasih
Pada mereka, penguasa
Tanpa menyuappun, aku telah kalah 8
Yang telah membiayai sekolahku 
Dan aku, harus mengubur mimpiku
Yang harus mengalah pada uang
Harus kalah pada kekuasaan

Siapa yang peduli dengan kami
Ayahku bukan ahli komputer
Yang dapat menuliskan keluhan di Facebook
Komputerpun aku tak punya
Gaji ayahku, tentu tak cukup
Membeli seperangkat komputer
Dan mendapat koin sumbangan 
Dari rakyat Indonesia
Atas nama solidaritas 

10
3 hari lalu
Kejadian itu menimpaku
Aku masih kaget
Didepan pusara ibuku aku menangis
Apa yang kulakukan
Aku gagal
Memenuhi janjiku
Untuk menemani ayah
Hingga akhir hayatnya

Sebelum masuk jeruji besi
Dan membayar ganti rugi
Aku kembali kesekolah
Menaiki atap
Tempatku menyendiri
Selama disekolah 
Sudah tak tersisa
Tinggal ayahku
Yang kini bersama kesendirian 
Betapa keadilan itu
Sangat mahal

Baru kusadari
Sekolah ini
Adalah alat politik, dari orang kaya
Untuk menyedot perhatian publik 
Karena beliau, ingin menjadi pejabat negara
Itulah sebabnya, aku dipertahankan
Karena kepintaran
Dan akan menjadi nilai jual
Hingga akhirnya kejadian ini terjadi
Mereka seolah menjadi korban
Anaknya adalah korban dari brandalan
Sepertiku
Dengan begitu, orang yang bersimpati semakin banyak
Suara untuk memilihnya menjadi pejabat, semakin banyak 

Tak ada yang bisa dilakukan
Ketika aku mati
Semuanya akan beres
Orang tuaku tak perlu menebus
Tak perlu mendengar tuntutan hukum
Dan masalah, selesai
Nyawa balas nyawa 
Akhirnya, aku dapat menjadi burung 9
Yang telah lama kuimpikan
Ketika masuk ketempat ini
Burung
Burung
Itulah aku sekarang
Yang akan terbang

11
Aku dapat tersenyum
Ayah, 
Aku akan menyusul Ibu
Yang telah ada disana
Sekarang aku terpaksa
Aku tinggalkan engkau sendiri
Menghadapi kerasnya dunia
Yang telah kurasakan

Seragam kotak-kotak yang kupakai
Adalah pakaian terakhirku
Dibumi ini
Seblum berganti kafan putih
Entah surga atau neraka
Yang akan menyambutku
Terbebas dari hukum dunia
Aku sekarang akan menghadapi
Hukum akhirat

Meski Tuhan tak menerimaku
Itu lebih baik
Itu lebih adil
Aku dapat menerima
Kitab Laumul Mahfuz
Hasil penilaian
Dari apa yang kulakukan
Keadilan yang sejati
Akan kudapati, disana
Meski masih ada
Siksaan yang jauh lebih hebat
Dan hakim
Adalah Tuhanku sendiri
Yang duduk disana 
Singgasana Arsy
Diatas langit lapis 7

Selamat tinggal dunia
Terimakasih telah menerimaku













Catatan Kaki
1. Indonesia termasuk negara dengan kekerasan atau tingkat bully nomor 2 sedunia dibawah Jepang. Entah di institusi pendidikan, lingkungan, ataupun keluarga. Sumber: http://ciricara.com/2012/10/19/indonesia-masuk-daftar-negara-dengan-kasus-bullying-tertinggi/
2. Budaya bully pasti selalu terdapat disetiap institusi pendidikan, biasanya disebabkan diskriminasi guru terhadap anak didik, kesenjangan siswa kaya dan miskin, pola pikir masyarakat yang kaku, dan bimbingan yang tidak layak. Hingga kini, tradisi tersebut masih ada meski semakin sedikit. Sumber: http://www.stkippasundan.ac.id/2012/11/05/bullying-dalam-dunia-pendidikan/
3. Kekerasan di Indonesia seolah menjadi tradisi. Kasus bully di Indonesia yang banyak menjadi sorotan adalah Jakarta dengan SMU Don Bosco yang pernah dipublikasi. Sangat terbuka kemungkinan didaerah juga bersemi tradisi serupa, seperti di Pati dengan geng Nero, dll. Sumber: http://www.tribunnews.com/topics/bullying-di-sma-don-bosco
4. Kasus bully juga berdampak pada psikologi anak. Mulai dari mengurung diri, menangis, nilai turun, dll. Sumber: http://gmc-bekasi.blogspot.com/2010/11/bullying-penyebab-menurunnya-prestasi.html
5. Tidak semua kasus bully terungkap karena banyak korban yang tidak berani melapor. Entah karena takut kehilangan teman atau menjadi perhatian banyak orang. Sumber : http://sampulbaca.blogspot.com/2013/03/bullying-di-sekolah.html 
6. Di Indonesia, masalah ketimpangan social kaya dan miskin masih menjadi tolak ukur kedudukan. Sumber : http://www.academia.edu/3735548/Kesenjangan_Sosial_dalam_persepektif_sistem_sosial_Talcott_Parsons
7. Sedangkan sistem pengadilan di Indonesia memang lebih banya berpihak kepada kaum menengah keatas. Ketidakadilan hukum di Indonesia adalah masalah klasik. Sejak Kemerdekaan hingga saat ini sulit menemukan penyelesaian hukum tanpa campur tangan amplop dan orang yang berpengaruh. Sumber: http://hasanwijaya766hi.blogspot.com/2013/05/ketidakadilan-hukum-di-indonesia.html
8. Keterkaitan ketidakadilan hukum di Indonesia dengan praktik KKN sangat tinggi, bahkan saling berhubungan satu sama lain. Bisa dibilang penegakan hukum merupakan bisnis baru bagi sebagian penegak hukum. Sumber:  http://ksm-unas.com/archives/163
Korban bully yang berat, biasanya akan berakhir dengan tindakan nekat seperti membunuh hingga bunuh diri karena tidak kuat. Sumber : http://www.gadis.co.id/gaul/aksi/bunuh.diri.akibat.bullying/001/006/194

Tidak ada komentar:

Posting Komentar